Rabu, 24 Februari 2016

Sayap Palsu



SAYAP PALSU
Karya: Mahlil Rizki
                 

                 Entah kapan lagi aku akan merasakan kebahagiaan ini. kebahagiaan palsu yang sangat berarti bagiku. Seorang remaja yang menemukan sayapnya walupun ternyata sayap itu bukan miliknya. Tapi aku sangat bersyukur masih bisa merasakan semua ini. Mencintai seorang insan yang tak akan pernah mencintaiku. Semuanya memang sudah ku ketahui bahwa dia tak pernah mencintaku tapi aku menyembunyikannya dan hanya berpikir positif tentang semua ini agar kami tetap seperti sekarang yang saling menyayangin satu sama lain walupun kasih sayangnya palsu untukku. Aku hanya berharap suatu saat kelak aku dapat menyaksikannya dengan yang lain tepat di depan mataku.

                “Kenapa melamun anak jelek? Pasti lagi mikirin aku ya?” katanya dengan suara lembut di tambah dengan senyum manis yang mengarah kepadaku. “Hahahaha, PD kali. Aku lagi mikir aja, gimana nanti kalau kita udah lulus trus kita ketemu. Apakah kita akan bisa seperti ini?” kataku dengan nada pelan namun cukup jelas. “Semuanya sudah ada yang ngatur. Eh, emangnya aku mau ketemu lagi sama bocah jahil ini” katanya dengan nada sedikit mengejek. Tanpa ada jawaban dariku, kemudian aku menundukkan kepalaku seraya memikirkan perkataannya tadi. “Ah, kau ini.Udah, gak usah di pikirkan. Tadi aku cuma tadi, sekalian ingin melihat ekspresimu ketika mendengarkan itu. Ternyata kamu lucu juga ya kalau lagi gitu. Hahahahah. Pastinya, aku akan merindukanmu bodoh. Eh kita lanjutin belajarnya ya. Kan minggu depan kita mau ujian semester” katanya dengan suara khasnya yang lembut. “Ok, siap bos. Kalau gitu ajari aku ya. Ya, kalau bisa sih, ajari juga biar tetap sayang samamu” candaku untuk meredakan suasana. “Ok, siapa takut. Asalkan yang di situ bisa menerimanya” jawabnya sekenanya kemudian tertawa kecil.
                Kemudian kamipun melanjutkan diskusi belajar kami. Memang setiap minggu, kami bertemu di sekolahuntuk belajar bersama. Belajar bersama sih, belajar bersama. Tapi seingatku sejak kami belajar bersama sampai sekarang ini, aku tidak pernah mengajarinya tentang apapun. Malah dia yang selalu mengajari aku tentang segalanya. Bukan hanya masalah sekolah, bahkan semua masalahku dapat di atasinya. Terkadang memang aku malu. Tapi entah kenapa ketika dia bicara, seakan semangatku kembali lagi dan perlahan rasa malu itu menipis bahkan sampai hilang. Yang ku tahu sekarang, aku harus berhasil dan sukses karna banyak insan yang ingin aku bahagiakan. Memang sih, aku sering melihatnya berdua-dua an sama siswa lain di sekolah. Tapi memang yang namanya cinta, maslah apapun pasti akan kau maafkan asalkan yang melakukannya adalah dia yang kau sayangi. Mungkin itulah yang namanya cinta buta. Cinta yang tak memandang seberapa besar kesalahanmu. Cinta yang hanya mengetahui bahwa kau yang terbaik di matanya. Itulah cinta remaja yang tulus tanpa alasan yang jelas karna kau tak akan menemukan alasan kenapa engkau sampai jatuh cinta kepadanya. Kau juga nanti akan merasakan perasaan yang sama sepertiku. Dia memang sungguh cantik untuk orang biasa sepertiku makanya sedari dulu aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku ini kepadanya. Aku bahagia dengan semua ini karna masih bisa menikmati hidup dengannya. Dia termasuk anak yang cerdas di sekolah. Dia juga anak yang sopan dan sangat baik untuk menjadi teman dekatku. Tidak seperti kita yang sering menyakiti orang lain yang jelas-jelas sangat menyayangi kita. dia itu sebaliknya, dia bahkan sangat baik kepada orang yang benar-benar sangat membencinya. Makanya, aku tidak pernah menemukan secuil benci dan dendam di hatinya. Memang sih, banyak yang menyukainya tapi aku pikir semuanya sama saja. Tidak ada yang di perlakukannya spesial atau istimewa.
                “Yan, sampai sini dulu ya pelajaran pelajaran kita. Ingat, jangan sampai nilainya jelek dan rajin-rajin belajarnya. Ingat aku juga ya” katanya yang kemudian tertawa kecil. “Iya, aku pasti gak akan lupa sama anak yang paling cerewet yang ku kenal ini” kataku yang kemudian memasukkan buku-buku pelajaran ke tas ranselku. Dia hanya tersenyum manis kemudian melangkah meninggalkanku di kelas yang pernuh dengan kenangan ini. Selanjutnya aku mengambil buku-buku di lokerku yang akan ku bawa ke rumah untuk belajar nanti malamsembari mempersiapkan ujian semester yang akan datang. Setelah semuanya selesai, aku mulai melangkahkan kaki ini ke halte untuk menunggu angkot jurusan pusat kota. Memang sih capek nunggu angkot di halte apalagi nanti kalau udah sampe pusat kota. Mesti jalan lagi sampe rumah. Banyak memang teman yang menyarankan naik sepeda motor tapi mereka tidak tahu bahwa banyak pelajaran yang dapat dari kebiasaanku naik angkot ini. Melatih kesabaran saat nunggu angkot, saling berbagitempat saat di angkot dan masih banyak lagi yang akan kau temukan jika kau naik angkot yang mungkin akan kau rasakan. Hampir seperempat jam angkot melaju, tibalah kami di pusat kota. Akupun mengeluarkan uangku untuk membayar jasa angkotnya. Kemudian aku melanjutkan perjalanan yang memang tidak terlalu jauh tapi cukup untuk menguras tenaga untuk sampai di rumahku. Setibanya di rumah aku langsung mandi, sholat dan kemudian belajar sampai rasa lelah ini menghilangkannya dari pikiranku.
                Hampir setiap malam aku sering teringat tentangnya. Senyumnya yang manis dan suaranya yang lembut menemani malam-malamku walaupun itu hanya ada di benakku. Itu yang menjadi pendorong buatku untuk terus belajar dan belajar sampai aku bisa mencapai tujuanku. Tidurku sekarang hanya 4 jam sehari semalam karna semua waktuku, ku habiskan untuk belajar. Ujian semester inilah salah satu penentuku masuk SNMPTN atau tidak. Itu sih yang sering dikatakan oleh wali kelasku. Aku sebenarnya bingung, kenapa aku bisa seperti ini. Entah kekuatan dari mana yang membuat aku seperti ini. Waktu tak lagi ku sia-siakan, lelah tak lagi ku hiraukan dan semangat yang terus berkobar hingga sekarang. Apakah ini yang namanya kekuatan cinta. Ah, yang penting aku bahagia dengan semua ini.
                Sudah seminggu ini aku berusaha semaksimal mungkin untuk belajar, belajar dan terus belajar tanpa ada rasa lelah sedikitpunkarna dia selalu menemaniku walaupun hanya dalam hatiku saja. Memang aku tak pernah lagi mendengar kabar tentangnya tapi entah mengapa dia selalu hadir dalam benakku. Besok adalah ujian semester yang sudah dari dulu aku nantikan. Dengan semangat yang berkobar-kobar, ku rebahkan tubuh ini di tempat tidurku untuk istirahat karna besok kami akan mulai menghadapi ujian semester.  Sekitar 2 menit aku rebahkan tubuhku, aku sudah tertidur pulas dengan sedikit mendengkur.
                “ Yan, sudah jam 6. Apa kamu gak sekolah?” kata ibu dari luar kamarku yang kemudian mengetuk pintu dengan cukup keras. “Iya bu, sebentar lagi” jawabku sekenanya dan sejurus kemudian meneruskan mimpi indahku lagi. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan Byuuuuurrrr seketika itu aku terbangun karna ibu menyiramku dengan air. “ Lihat, udah jam berapa ini” kata ibuku sembari menunjukkan jam di hpku. “Kenapa ibu baru membangunkan aku sekarang. Aku sudah telat bu” kataku yang kemudian bergegas mandi dan mengenakan pakaian seragam sekolahku. Tanpa pikir panjang, aku langsung berangkatke sekolah tanpa ada sedikitpun peralatan sekolah yang ku bawa di tas ranselku.
                Sesampainya di sekolah, aku langsung berlari untuk segera masuk kelas. Ternyata sungguh mengejutkan. Aku  tidak melihat seorang siswa pun di lapangan utama. “Mungkin jam masuknya di perlambat” pikirku. Dengan tenangnya aku berjalan di tengah lapangandan segera menuju kelas untuk segera membuka buku mengulang pelajaran. “He, kamu. Kamu mau kemana. Jam ujian sudah  dimulai 20 menit yang lalu. Dan karna kamu terlambat datang, kamu harus di hukum membersihkan wc siswa. Sampai bersih.” Kata guru piket yang tak berperasaan itu kepadaku. Dengan tergesa-gesa, aku pergi ke ruang KLH untuk mengambil peralatan kebersihan dan dengan segera menuju ke wc siswa untuk membersihkannya secepat mungkin.
                Sudah 40 menit aku membersihkannya dan menurutku itu sudah bersih dapat kutinggalkan. Aku segera menuju kelas dan memulai ujianku. “Assalaamu ‘alaikum” kataku ketika masuk kelas dan langsung menuju kursi ujianku. “Kamu dari mana? Waktunya hanya tinggal 30 menit lagi” kata pengawas ujian di kelasku. “Insya allah saya masih bisa bu” kataku yang langsung membaca soal yang kemudian mencari jawaban yang tepat.
                “Waktu kalian Cuma 5 menit lagi. Periksa kembali data-data kalian dan jawabannya” ata pengawas yang kemudian melirikku. 5 menit kemudian “waktu kalian sudah habis. Silahkan kumpulkan menurut absen. Aisyah, Aldi, Anita, Azizah, Dendy........ yan” kata pengawas kami lagi dan dengan segera menyusun nama-nama yang telah di panggil. Untung saja namaku terakhir sehingga hanya 5 soal yang aku jawab secara asal-asalan. Untuk ujian selanjutkan, semuanya lancar karna sudah ku persiapkan sebelumnya.
                Sudah 7 hari kami menjalani ujian semester dan semuanya dapat aku lewati dengan mulus. Dan besok hanya kegiatan paska semester yang membuatku sangat bosan. Aku hanya di kelas dan jika waktu sholat tiba, aku pergi ke mushallah untuk melaksanakan sholat. Tidak jarang memang aku melihat dia dengan siswa lain lagi berdua-duaan di depan kelasnya. Tapi aku tetap berpikir positif bahwa itu hanya sekedar temannya saja dan tidak lebih dari itu. Memang sih, kami gak pernah lagi komunikasi semenjak hari minggu itu. Karna dia yang mengatakan kepadaku agar belajar yang rajin dan dia tidak ingin diganggu selama ujian. Aku sih memaklumi apa yang di katakannya karna memang sebenarnya aku juga ingin konsentrasi dengan ujianku ini.
                Kegiatan paska semester sudah berakhir dan dan besok adalah hari penerimaan raport. Kalau boleh jujur, aku tidak bisa tidurkarna selalu memikirkan tentang hasil ujianku besok. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Aku kemudian mengambil air wudhu untuk sholat sunah agar hati ini bisa tenang. Eh ternyata, selesai sholataku malah ketiduran samapi jam 5. Kemudian aku bergegas sholat, mandi trus mengenakan pakaian seragam kemudian makan. Selesai makan,aku bergegas berangkat ke sekolah karna sudah tidak sabar melihat hasil dari perjuangankuselama ini. Jarum jam menunjukkan pukul 8 ketika aku meninggalkan rumah dan ketika sesampainya di sekolah jarum jam menunjukkan pukul 9 karna sepanjang jalan penuh dengan macet yang sangat panjang. Sesampainya di sekolah, ternyata acara nya sudah di mulai. Yaitu pengumuman juara-juara paska semester, juara kelas dan juara umum sekolah ini. Aku langsung masuk ke barisan dengan sembunyi-sembunyi. “Kelas XII IPA U 3. Juara 3 dengan rata-rata nilai 91,3 jatuh kepada anak kami Anita saputri. Juara 2 dengan rata-rata nilai 91,5 jatuh kepada anak kami Aldi yazri. Dan juara 1 dengan rata-rata nilai 92,4 jatuh kepada anak kami Yan alriyadi” kata moderator acara pengumuman juara-juara kelas. Hah, aku juara. Kataku dalam hati. Aku masih melongo mendengar perkataan moderator tadi. “ Woi, kamu gak maju kayak orang itu. Atau aku aja yang maju” kata teman di sampingku.kemudian aku berdiri dan berjalan menuju ke tempat orang-orang yang juara. Aku masih tidak percaya dengan semua ini namun aku harus percaya bahwa ini adalah hasil dari perjuanganku. Setelah menerima piagam, aku kembali ke barisan dan kembali menunggu acara ini selesai. Semua temanku kagum kepadaku karna jauh berubah dan mengucapkan kata-kata selamat. “Acara selanjtnya adalah pengumuman juara umum di sekolahkita ini. Juara umum ke 3 jatuh kepada anak kami Imam. Juara umum ke 2 jatuh kepada anak kami Rahmat dan juara umum pertama jatuh kepada anak kami Rani” semua siswa dan siswi yang ada di lapangan utama  bersorak dengan meriah. Aku pun ikut bersorak karna wanita yang sedari dulu ku cintai juara umum pertama di sekolah ini. setelah acara selesai, aku dan yang lain ke kelas masing-masing untuk untuk menerima raport. Aku cukup puas dengan hasil dari perjuanganku dan ingin segera memperlihatkannya kepada wanita yang sayangi itu. Tapi apa yang ku lihat. Dia malah tertawa bersama siswa lain yang kemudian mengantarnya pulang. Aku memang cukup marah melihat semua ini tapi ini tak berlangsung lama karna sekarang aku sudah cukup tahu tentang  dirinya dan diriku yang memang tak akan pernah bersatu.
                Setelah peristiwa itu aku semakin giat belajar untuk mencapai tujuan-tujuanku. Hari-hariku kini kupersiapkan untuk kesuksesanku kelak dan supaya aku menemukan sayap asliku. Sayap palsu itu sudah membawa aku sampai sekarang i dengan memberikan semangat dalam jiwaku sampai aku lulus UN dengan nilai yang cukup memuaskan dan di terima di perguruan tinggi yang kutuju. Beginilah sebenarnya cinta di masa remaja yang memberikan semangat untuk kesuksesanmu dan terus merubahmu kepada kebaikan. Bukan malah cinta yang menjerumuskanmu ke lembaj dosa dan menghancurkan masa depanmu. Kini aku sadar dengan semua ini. Dengan semua kebahagiaan palsu dan sayap palsu yang mengantarkan aku kepada kebahagiaan yang nyata. Terima kasih sayap palsuku. Terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku walaupun hanya memberikan semua kepalsuanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar