SAYAP PALSU
Karya: Mahlil Rizki
Entah
kapan lagi aku akan merasakan kebahagiaan ini. kebahagiaan palsu yang sangat
berarti bagiku. Seorang remaja yang menemukan sayapnya walupun ternyata sayap
itu bukan miliknya. Tapi aku sangat bersyukur masih bisa merasakan semua ini. Mencintai
seorang insan yang tak akan pernah mencintaiku. Semuanya memang sudah ku
ketahui bahwa dia tak pernah mencintaku tapi aku menyembunyikannya dan hanya
berpikir positif tentang semua ini agar kami tetap seperti sekarang yang saling
menyayangin satu sama lain walupun kasih sayangnya palsu untukku. Aku hanya
berharap suatu saat kelak aku dapat menyaksikannya dengan yang lain tepat di
depan mataku.
“Kenapa
melamun anak jelek? Pasti lagi mikirin aku ya?” katanya dengan suara lembut di
tambah dengan senyum manis yang mengarah kepadaku. “Hahahaha, PD kali. Aku lagi
mikir aja, gimana nanti kalau kita udah lulus trus kita ketemu. Apakah kita
akan bisa seperti ini?” kataku dengan nada pelan namun cukup jelas. “Semuanya
sudah ada yang ngatur. Eh, emangnya aku mau ketemu lagi sama bocah jahil ini”
katanya dengan nada sedikit mengejek. Tanpa ada jawaban dariku, kemudian aku
menundukkan kepalaku seraya memikirkan perkataannya tadi. “Ah, kau ini.Udah,
gak usah di pikirkan. Tadi aku cuma tadi, sekalian ingin melihat ekspresimu
ketika mendengarkan itu. Ternyata kamu lucu juga ya kalau lagi gitu. Hahahahah.
Pastinya, aku akan merindukanmu bodoh. Eh kita lanjutin belajarnya ya. Kan
minggu depan kita mau ujian semester” katanya dengan suara khasnya yang lembut.
“Ok, siap bos. Kalau gitu ajari aku ya. Ya, kalau bisa sih, ajari juga biar
tetap sayang samamu” candaku untuk meredakan suasana. “Ok, siapa takut. Asalkan
yang di situ bisa menerimanya” jawabnya sekenanya kemudian tertawa kecil.
Kemudian
kamipun melanjutkan diskusi belajar kami. Memang setiap minggu, kami bertemu di
sekolahuntuk belajar bersama. Belajar bersama sih, belajar bersama. Tapi
seingatku sejak kami belajar bersama sampai sekarang ini, aku tidak pernah
mengajarinya tentang apapun. Malah dia yang selalu mengajari aku tentang
segalanya. Bukan hanya masalah sekolah, bahkan semua masalahku dapat di
atasinya. Terkadang memang aku malu. Tapi entah kenapa ketika dia bicara,
seakan semangatku kembali lagi dan perlahan rasa malu itu menipis bahkan sampai
hilang. Yang ku tahu sekarang, aku harus berhasil dan sukses karna banyak insan
yang ingin aku bahagiakan. Memang sih, aku sering melihatnya berdua-dua an sama
siswa lain di sekolah. Tapi memang yang namanya cinta, maslah apapun pasti akan
kau maafkan asalkan yang melakukannya adalah dia yang kau sayangi. Mungkin
itulah yang namanya cinta buta. Cinta yang tak memandang seberapa besar
kesalahanmu. Cinta yang hanya mengetahui bahwa kau yang terbaik di matanya. Itulah
cinta remaja yang tulus tanpa alasan yang jelas karna kau tak akan menemukan
alasan kenapa engkau sampai jatuh cinta kepadanya. Kau juga nanti akan
merasakan perasaan yang sama sepertiku. Dia memang sungguh cantik untuk orang
biasa sepertiku makanya sedari dulu aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku
ini kepadanya. Aku bahagia dengan semua ini karna masih bisa menikmati hidup
dengannya. Dia termasuk anak yang cerdas di sekolah. Dia juga anak yang sopan
dan sangat baik untuk menjadi teman dekatku. Tidak seperti kita yang sering
menyakiti orang lain yang jelas-jelas sangat menyayangi kita. dia itu
sebaliknya, dia bahkan sangat baik kepada orang yang benar-benar sangat
membencinya. Makanya, aku tidak pernah menemukan secuil benci dan dendam di
hatinya. Memang sih, banyak yang menyukainya tapi aku pikir semuanya sama saja.
Tidak ada yang di perlakukannya spesial atau istimewa.
“Yan,
sampai sini dulu ya pelajaran pelajaran kita. Ingat, jangan sampai nilainya
jelek dan rajin-rajin belajarnya. Ingat aku juga ya” katanya yang kemudian
tertawa kecil. “Iya, aku pasti gak akan lupa sama anak yang paling cerewet yang
ku kenal ini” kataku yang kemudian memasukkan buku-buku pelajaran ke tas
ranselku. Dia hanya tersenyum manis kemudian melangkah meninggalkanku di kelas
yang pernuh dengan kenangan ini. Selanjutnya aku mengambil buku-buku di lokerku
yang akan ku bawa ke rumah untuk belajar nanti malamsembari mempersiapkan ujian
semester yang akan datang. Setelah semuanya selesai, aku mulai melangkahkan
kaki ini ke halte untuk menunggu angkot jurusan pusat kota. Memang sih capek
nunggu angkot di halte apalagi nanti kalau udah sampe pusat kota. Mesti jalan
lagi sampe rumah. Banyak memang teman yang menyarankan naik sepeda motor tapi
mereka tidak tahu bahwa banyak pelajaran yang dapat dari kebiasaanku naik angkot
ini. Melatih kesabaran saat nunggu angkot, saling berbagitempat saat di angkot
dan masih banyak lagi yang akan kau temukan jika kau naik angkot yang mungkin
akan kau rasakan. Hampir seperempat jam angkot melaju, tibalah kami di pusat
kota. Akupun mengeluarkan uangku untuk membayar jasa angkotnya. Kemudian aku
melanjutkan perjalanan yang memang tidak terlalu jauh tapi cukup untuk menguras
tenaga untuk sampai di rumahku. Setibanya di rumah aku langsung mandi, sholat
dan kemudian belajar sampai rasa lelah ini menghilangkannya dari pikiranku.
Hampir
setiap malam aku sering teringat tentangnya. Senyumnya yang manis dan suaranya
yang lembut menemani malam-malamku walaupun itu hanya ada di benakku. Itu yang
menjadi pendorong buatku untuk terus belajar dan belajar sampai aku bisa
mencapai tujuanku. Tidurku sekarang hanya 4 jam sehari semalam karna semua
waktuku, ku habiskan untuk belajar. Ujian semester inilah salah satu penentuku
masuk SNMPTN atau tidak. Itu sih yang sering dikatakan oleh wali kelasku. Aku sebenarnya
bingung, kenapa aku bisa seperti ini. Entah kekuatan dari mana yang membuat aku
seperti ini. Waktu tak lagi ku sia-siakan, lelah tak lagi ku hiraukan dan
semangat yang terus berkobar hingga sekarang. Apakah ini yang namanya kekuatan
cinta. Ah, yang penting aku bahagia dengan semua ini.
Sudah
seminggu ini aku berusaha semaksimal mungkin untuk belajar, belajar dan terus
belajar tanpa ada rasa lelah sedikitpunkarna dia selalu menemaniku walaupun
hanya dalam hatiku saja. Memang aku tak pernah lagi mendengar kabar tentangnya
tapi entah mengapa dia selalu hadir dalam benakku. Besok adalah ujian semester
yang sudah dari dulu aku nantikan. Dengan semangat yang berkobar-kobar, ku
rebahkan tubuh ini di tempat tidurku untuk istirahat karna besok kami akan mulai
menghadapi ujian semester. Sekitar 2
menit aku rebahkan tubuhku, aku sudah tertidur pulas dengan sedikit mendengkur.
“
Yan, sudah jam 6. Apa kamu gak sekolah?” kata ibu dari luar kamarku yang
kemudian mengetuk pintu dengan cukup keras. “Iya bu, sebentar lagi” jawabku
sekenanya dan sejurus kemudian meneruskan mimpi indahku lagi. Tiba-tiba pintu
kamarku terbuka dan Byuuuuurrrr seketika itu aku terbangun karna ibu menyiramku
dengan air. “ Lihat, udah jam berapa ini” kata ibuku sembari menunjukkan jam di
hpku. “Kenapa ibu baru membangunkan aku sekarang. Aku sudah telat bu” kataku
yang kemudian bergegas mandi dan mengenakan pakaian seragam sekolahku. Tanpa
pikir panjang, aku langsung berangkatke sekolah tanpa ada sedikitpun peralatan
sekolah yang ku bawa di tas ranselku.
Sesampainya
di sekolah, aku langsung berlari untuk segera masuk kelas. Ternyata sungguh
mengejutkan. Aku tidak melihat seorang
siswa pun di lapangan utama. “Mungkin jam masuknya di perlambat” pikirku.
Dengan tenangnya aku berjalan di tengah lapangandan segera menuju kelas untuk
segera membuka buku mengulang pelajaran. “He, kamu. Kamu mau kemana. Jam ujian
sudah dimulai 20 menit yang lalu. Dan
karna kamu terlambat datang, kamu harus di hukum membersihkan wc siswa. Sampai
bersih.” Kata guru piket yang tak berperasaan itu kepadaku. Dengan
tergesa-gesa, aku pergi ke ruang KLH untuk mengambil peralatan kebersihan dan
dengan segera menuju ke wc siswa untuk membersihkannya secepat mungkin.
Sudah
40 menit aku membersihkannya dan menurutku itu sudah bersih dapat kutinggalkan.
Aku segera menuju kelas dan memulai ujianku. “Assalaamu ‘alaikum” kataku ketika
masuk kelas dan langsung menuju kursi ujianku. “Kamu dari mana? Waktunya hanya
tinggal 30 menit lagi” kata pengawas ujian di kelasku. “Insya allah saya masih
bisa bu” kataku yang langsung membaca soal yang kemudian mencari jawaban yang
tepat.
“Waktu
kalian Cuma 5 menit lagi. Periksa kembali data-data kalian dan jawabannya” ata
pengawas yang kemudian melirikku. 5 menit kemudian “waktu kalian sudah habis.
Silahkan kumpulkan menurut absen. Aisyah, Aldi, Anita, Azizah, Dendy........
yan” kata pengawas kami lagi dan dengan segera menyusun nama-nama yang telah di
panggil. Untung saja namaku terakhir sehingga hanya 5 soal yang aku jawab
secara asal-asalan. Untuk ujian selanjutkan, semuanya lancar karna sudah ku
persiapkan sebelumnya.
Sudah
7 hari kami menjalani ujian semester dan semuanya dapat aku lewati dengan
mulus. Dan besok hanya kegiatan paska semester yang membuatku sangat bosan. Aku
hanya di kelas dan jika waktu sholat tiba, aku pergi ke mushallah untuk
melaksanakan sholat. Tidak jarang memang aku melihat dia dengan siswa lain lagi
berdua-duaan di depan kelasnya. Tapi aku tetap berpikir positif bahwa itu hanya
sekedar temannya saja dan tidak lebih dari itu. Memang sih, kami gak pernah
lagi komunikasi semenjak hari minggu itu. Karna dia yang mengatakan kepadaku
agar belajar yang rajin dan dia tidak ingin diganggu selama ujian. Aku sih
memaklumi apa yang di katakannya karna memang sebenarnya aku juga ingin
konsentrasi dengan ujianku ini.
Kegiatan
paska semester sudah berakhir dan dan besok adalah hari penerimaan raport.
Kalau boleh jujur, aku tidak bisa tidurkarna selalu memikirkan tentang hasil
ujianku besok. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Aku kemudian mengambil
air wudhu untuk sholat sunah agar hati ini bisa tenang. Eh ternyata, selesai
sholataku malah ketiduran samapi jam 5. Kemudian aku bergegas sholat, mandi
trus mengenakan pakaian seragam kemudian makan. Selesai makan,aku bergegas berangkat
ke sekolah karna sudah tidak sabar melihat hasil dari perjuangankuselama ini. Jarum
jam menunjukkan pukul 8 ketika aku meninggalkan rumah dan ketika sesampainya di
sekolah jarum jam menunjukkan pukul 9 karna sepanjang jalan penuh dengan macet
yang sangat panjang. Sesampainya di sekolah, ternyata acara nya sudah di mulai.
Yaitu pengumuman juara-juara paska semester, juara kelas dan juara umum sekolah
ini. Aku langsung masuk ke barisan dengan sembunyi-sembunyi. “Kelas XII IPA U
3. Juara 3 dengan rata-rata nilai 91,3 jatuh kepada anak kami Anita saputri.
Juara 2 dengan rata-rata nilai 91,5 jatuh kepada anak kami Aldi yazri. Dan
juara 1 dengan rata-rata nilai 92,4 jatuh kepada anak kami Yan alriyadi” kata
moderator acara pengumuman juara-juara kelas. Hah, aku juara. Kataku dalam
hati. Aku masih melongo mendengar perkataan moderator tadi. “ Woi, kamu gak
maju kayak orang itu. Atau aku aja yang maju” kata teman di sampingku.kemudian
aku berdiri dan berjalan menuju ke tempat orang-orang yang juara. Aku masih
tidak percaya dengan semua ini namun aku harus percaya bahwa ini adalah hasil
dari perjuanganku. Setelah menerima piagam, aku kembali ke barisan dan kembali
menunggu acara ini selesai. Semua temanku kagum kepadaku karna jauh berubah dan
mengucapkan kata-kata selamat. “Acara selanjtnya adalah pengumuman juara umum
di sekolahkita ini. Juara umum ke 3 jatuh kepada anak kami Imam. Juara umum ke
2 jatuh kepada anak kami Rahmat dan juara umum pertama jatuh kepada anak kami
Rani” semua siswa dan siswi yang ada di lapangan utama bersorak dengan meriah. Aku pun ikut bersorak
karna wanita yang sedari dulu ku cintai juara umum pertama di sekolah ini.
setelah acara selesai, aku dan yang lain ke kelas masing-masing untuk untuk menerima
raport. Aku cukup puas dengan hasil dari perjuanganku dan ingin segera
memperlihatkannya kepada wanita yang sayangi itu. Tapi apa yang ku lihat. Dia
malah tertawa bersama siswa lain yang kemudian mengantarnya pulang. Aku memang
cukup marah melihat semua ini tapi ini tak berlangsung lama karna sekarang aku
sudah cukup tahu tentang dirinya dan
diriku yang memang tak akan pernah bersatu.
Setelah
peristiwa itu aku semakin giat belajar untuk mencapai tujuan-tujuanku.
Hari-hariku kini kupersiapkan untuk kesuksesanku kelak dan supaya aku menemukan
sayap asliku. Sayap palsu itu sudah membawa aku sampai sekarang i dengan
memberikan semangat dalam jiwaku sampai aku lulus UN dengan nilai yang cukup
memuaskan dan di terima di perguruan tinggi yang kutuju. Beginilah sebenarnya
cinta di masa remaja yang memberikan semangat untuk kesuksesanmu dan terus
merubahmu kepada kebaikan. Bukan malah cinta yang menjerumuskanmu ke lembaj
dosa dan menghancurkan masa depanmu. Kini aku sadar dengan semua ini. Dengan
semua kebahagiaan palsu dan sayap palsu yang mengantarkan aku kepada
kebahagiaan yang nyata. Terima kasih sayap palsuku. Terima kasih karena sudah
hadir dalam hidupku walaupun hanya memberikan semua kepalsuanmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar