Akhiri Saja Semuanya
Karya: Mahlil Rizki
Heru
memang anak nakal di sekolahnya. Tak sampai setahun, seluruh masyarakat sekolah
sudah mengenalnya. Siapa yang tak kenal dengan anak bandel yang selalu membuat
onar ini. Buku hitam bukan lagi buku dosa untuknya. Malah buku itu yang sering
di isinya ketika berada di sekolah. Memang tubuhnya tidak terlalu tinggi dan
badannya yang hanya sebesar remaja normal. Tapi dia sangat suka mengganggu
siswa-siswi yang ada di sekolahnya. Siapa yang menurutnya pantas menerima
pukulannya, maka dia tidak akan segan-segan memberikannya pada waktu itu juga.
Banyak memang siswa yang tak suka dengan perilakunya itu tapi ada satu guru
yang selalu sabar dalam mengajarinya walaupun guru itu selalu di bentak dan di
perlakukan dengan tidak hormat.
Suatu
hari, Heru berjalan-jalan ke kantin
sekolah yang cukup ramai ketika jam istirahat. Dia melihat kakak kelasnya yang
sama brandalnya dengannya sedang asyik menyantap makanan ringan di salah satu
meja di kantin tersebut. Heru kemudian membeli minuman dan mulai berjalan ke
arah mereka. Heru akhirnya melakukan aksi brandalnya dengan menumpahkan minuman
itu ke salah satu kakak kelas yang sedari tadi di perhatikannya. Tanpa ada
aba-aba, teman dari kakak kelas itu langsung menyerangnya dengan pukulan yang
cukup keras tepat di mulutnya. Heru terjatuh dan kemudian mengusap darah yang
mengalir dari mulutnya. Dengan tertawa kecil, Heru berkata “ini yang ku mau”.
Kemudian dia mengangkat kursi yang ada di dekatnya dan melemparnya tepat kearah
mereka. Dengan sigap mereka dapat menghindarinya. Tapi Heru tak habis akal. Dia
langsung melayangkan pukulan kearah salah satu kakak kelas yang berada dekat
dengannya sampai terjatuh dan Heru langsung menendang meja yang ada di depannya
sehingga mereka semua terjatuh kesakitan. Heru kemudian tertawa. Heru masih
tidak puas dengan perbuatannya ituu karna menurutnya tidak ada perlawanan dari
kakak-kakak kelasnya itu. “Bagaimana caranya agar mereka benar-benar berkelahi
denganku” katanya dalam hati. Heru mendapatkan ide untuk melempar mereka
kembali dengan kursi. Belum sempat Heru melemparnya, dia langsung di tampar
oleh guru BP kemudian tangannya di di pegang oleh satpam karna ingin
melayangkan pukulan ke guru BP. “Apa-apaan ini” kata guru BP yang kemudian
membantu kakak-kakak kelas itu untuk berdiri. Guru BP pun membawa mereka ke
ruang BP untuk di minta pertanggung jawaban.
Di
ruang BP, kakak-kakak kelas itu menceritakan kejadian sebenarnya kepada guru
BP. Heru tak dapat mengelak karna memang ini akibat ulahnya. Sejurus kemudian,
tamparan kedua mendarat di wajahnya lagi. Heru tidak tahan lagi karna sedari
tadi hanya dia saja yang di hukum fisik. “Apakah bapak tidak bosan menampar
saya?” katanya dengan nada sedikit mengejek. Tanpa ada jawaban dari guru BP
yang terdiam mendengar perkataannya itu, dia kemudian meneruskannya. ‘kalau aku sih, bosannya dengar bapak
ceramah. Apalagi ceramahnya sampai berjam-jam. Kalau boleh jujur sih, aku
pengen mual setiap bapak menceramahi aku. Kalau tidak ada lagi yang perlu, saya
akan mencatat nama saya di buku harian ku ini. Ok selesai. Terima kasih.
Selamat siang” katanya yang kemudian keluar dari ruang BP setelah menuliskan
namanya di buku hitam sekolah. Seperti biasanya, Heru tidak masuk jam
pelajaran. Kerjanya hanya nongkrong di kantin
sendirian karna memang tidak ada siswa atau siswi yang mau memperteman Heru.
Hampir 3 jam Heru nongkrong di kantin, bel pertanda jam pelajaran berakhirpun
berbunyi. Segera Heru menuju kelasnya dan mengambil tas ransel miliknya dan
kemudian dia pulang ke rumah dengan berjalan kaki.
Sesampainya
di rumah, Heru melihat ibunya sedang sakit parah dan tidak tahu apa yang harus
di perbuatnya. “Heru, kamu sudah pulang nak. Sini nak temani ibu” kata ibunya
sembari menyuruh Heru untuk mendekatinya yang sedang sakit parah di atas tempat
tidur. “ Kamu berantam lagi ya di sekolah. Ibu sudah tidak tahu lagi bagaimana
caranya menasehatimu. Kau adalah harta ibu satu-satunya. Kau yang kelak akan
mendoakan ibu kalau ibu sudah pergi. Kau anak yang baik nak. Ibu sangat ingin
melihatmu berubah atau kalau kau tak bisa memenuhi permintaan ibu, tolong
akhiri semua ini. Ibu sudah tak sanggup menanggungnya” kata ibu kepada Heru
yang kemudian di barengi dengan batuk-batuk. Ternyata ibu batuk darah dan
tiba-tiba pingsan. Heru sangat panik melihat kejadian itu dan langsung
melarikannya ke rumah sakit dengan naik taksi.
Sesampainya
di rumah sakit, Heru kemudian membawa ibunya ke ruang ICU di dampingi oleh
perawat lain. Tak berapa lama, dokter datang kemudian memeriksa kondisi ibu Heru.
Heru hanya menunggu dokter dari luar ruangan ICU. Hampir setengah jam Heru
menunggu ternyata dokterpun muncul dengan muka muram. “maaf kami sudah berusaha
semaksimal mungkin tapi ibu anda tidak tertolong. Maaf kan kami” kata dokter
kemudian memegang pundak Heru dan melangkah meninggalkannya. Heru sangat terpukul mendengar perkataan dari
dokter. Dan terlintaslah di benaknya untuk mengakhiri semua ini karna dia tidak
mungkin dapat hidup sendiri. Maka terlintaslah di benaknya untuk bunuh diri.
Ketika perjalanannya pulang ke rumah untuk bunuh diri, dia melihat ada golok di
atas gerobak sate. Dengan segera dia mengambilnya dan melakukan aksinya.Belum
sempat nyawanya berpisah dari tubuhnya, ternyata yang punya gerobak datang dan
memarahi Heru karna mengira Heru menculik goloknya. Heru yang gagal melakukan
aksinya pun semakin ingin untuk mengakhiri hidupnya. Maka ketika dia sedang
berjalan di suatu daerah yang memang cukup sepi, dia membaringkan tubuhnya di
tengah jalan dengan maksud agar ada kendaraan yang lewat kemudian menabraknya
hingga mati. Sudah hampir 1 jam dia berbaring
di tengah jalan tapi belum ada juga kendaraan yang lewat. Tiba-tiba dari
kejauhan datang kendaraan polisi yang sedang patroli. Polisi itu pun menangkap
Heru karna mengira bahwa Heru adalah kawanan begal yang sering beraksi di
daerah tersebut. Heru terus memberontak dan membela diri agar polisi itu yakin
bahwa dia bukanlah salah satu dari kawanan begal yang di maksud oleh polisi
itu. Tapi apa mau dikata. Keyakinan polisi tersebut tak terkoyahkan lagi. Dan
Heru akhirnya dibawa ke kantor polisi untuk di proses selanjutnya.
Setibanya
di kantor polisi, Heru terus ditanyai aksi-aksi begal di daerah itu. Heru hanya
melongo dan tidak satupun pertanyaan polisi itu dapat di jawab oleh Heru. Polisi
itu kemudian kesal melihat perilaku Heru yang tidak dapat menjawab pertanyaan
darinya dan sikapnya yang pura-pura baik. Polisi itu pun pergi ke ruangan lain
untuk mengambil data dan menanyai polisi lain tentang ciri-ciri kawanan
orang-orang yang membegal di daerah tersebut. Ketika polisi itu pergi, Heru
menemukan pistol di meja yang tepat di sampingnya sekarang. “Apa gunanya hidup
lagi” pikirnya. Kemudian mengarahkan pistol tersebut ke kepalanya. Tapi ya,
kalau memang maut belum datang mana mungkin kita dapat mempercepatnya. Pistol
tersebut ternyata hanya mainan anak perwira polisi di kantor tersebut. Heru
mengetahuinya karna ketika dia mau mengarahkan pistolnya ke kepalanya, anak itu
datang dan langsung mengambilnya dari tangan Heru. Dia kembali kecewa karna
gagal lagi untuk mengakhiri hidupnya . Setelah polisi yang menanyainya itu
datang, Heru kemudian di bebaskan karna dianggap tidak bersalah dan polisi
itupun meminta maaf kepada Heru. “Gimana kalau bapak buat laporan palsu saja.
kemudian menghukum mati saya” kata Heru yang berbisik kepada polisi itu. “Maaf
pak, kami tidak dapat melakukannya. Kalau saya meakukannya, saya yang nanti
bisa di hukum mati pak. Maaf sekali lagi pak” kata polisi itu dengan wajah
bingung karna mungkin baru kali ini dia menemukan orang jelas-jelas ingin di
hukum mati tanpa ada alasan tertentu. Setelah itu Heru keluar kantor dan mulai
melangkahkan kakinya ke rumah untuk beristirahat karna Heru sudah lelah dengan
semua peristiwa yang dia alami seharian ini. “Mati aja susah, apalagi untuk
hidup” katanya dalam hatinya.
Ketika
Heru keluar dari kantor polisi dia kemudian melihat kakak-kakak kelasnya yang
dulu di pukuli sedang mengendarai sepeda motor mereka masing-masing dengan
sombongnya. Heru kemudian tersadar akan dosa-dosanya selama ini dan ingin
memperbaiki semuanya. Hampir seperempat jalan dia berjalan, terdengarlah suara
adzan. “Apakah aku masih di terima untuk bertobat? Apakah Allah akan menerima
tobat anak durhaka dan penuh dosa sepertiku. Bismilla. Mudah-mudahan tobatku di
terima” katanya Heru yang kemudian melangkah ke arah mesjid yang tepat berada
di sampingnya saat ini. Memang Heru sudah 10 tahun tidak pernah ke mesjid lagi
semnjak ayahnya meninggal dunia dan merenggut
semua kebahagiaan dalam hidupnya. Hidupnya kemudian hancur dan akhirnya
dia menjasi anak brandal seperti sekarang ini. Cukup lama memang Heru
melaksanakan sholatnya karna memang dia sudah bertobat dengan hati yang ikhlas
hanya mengharapkan ampunan dan ridho Allah. Hampir setengah jam dia
melaksanakan sholat ditambah dengan doa yang mungkin adalah doa ampunan yang
cukup panjang. Setelah selesai sholat, hatinya sudah mulai tenang. Heru pun
melanjutkan perjalanannya ke rumah bukan dengan maksud meratapi nasibnya,
melainkan ingin merubah hidupnya kearah yang lebih baik. Sambil berjalan, Heru
mengingat perbuatan-perbuatan buruknya yang lalu. Ketika rumah Heru sudah
dekat, dia melihat ada seorang kakek tua buta yang menyebrangi jalan. Kemudian
terlintas di benaknya untuk membantu kakek tersebut. Heru memegang tangan kakek
itu dan mengucapkan niat baiknya itu. Ketika mereka sudah berada tepat di
tengah jalan, datanglah mobil dengan kecepatan tinggi mengarah kepada mereka.
Heru yang melihat kendaraan itu langsung panik dan hanya bisa mendorong kakek
itu sedangkan dirinya tertabrak. Mobil yang menbrak heru tak berhenti, malah
melanjutkan perjalanannya. Heru tergeletak di tengah jalan dengan darah yang
mengalir deras dari kepalanya akibat benturan yang cukup keras dengan aspal
ketika dia terhempas jauh dari arahnya berdiri. Sedangkan kakek itu tergeletak
di trotoar jalan dalam keadaan pingsan.
Hampir
3 jam, Heru dan kakek itu tergeletak di jalan tanpa ada yang membantu mereka.
Setiap kendaraan yang melihat mereka hanya berhenti sejenak kemudian
melanjutkan perjalanan mereka tanpa ada bantuan yang mereka berikan. Tiba-tiba
dari kejauhan datang sebuah kendaraan yang ternyata adalah kendaraan guru Heru
yang memang sedari dulu sangat menyayanginya. Gurunya itu menangis melihat
keadaan Heru dan kakek yang tergeletak di jalan tanpa ada yang membantu.
Kemudian dia membawa mereka ke rumah sakit untuk diobati. Ternyata harapan Heru
yang dulu diinginkannya terkabulkan, harapan untuk mengakhiri hidupnya. Dia
tidak tertolong lagi karna sudah terlalu banyak darah yang keluar dari kepalanya
sedangkan kakek itu selamat tanpa ada luka sedikitpun. Dalam tidur panjangnya
itu, Heru ersenyum manis. Mungkin karna dia telah melakukan tugasnya sebagai
manusia untuk berbuat baik kepada sesama walaupun itu yang pertama dan terakhir
untuknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar