Kamis, 25 Februari 2016

Akhiri Saja Semuanya



Akhiri Saja Semuanya
Karya: Mahlil Rizki
                

                    Heru memang anak nakal di sekolahnya. Tak sampai setahun, seluruh masyarakat sekolah sudah mengenalnya. Siapa yang tak kenal dengan anak bandel yang selalu membuat onar ini. Buku hitam bukan lagi buku dosa untuknya. Malah buku itu yang sering di isinya ketika berada di sekolah. Memang tubuhnya tidak terlalu tinggi dan badannya yang hanya sebesar remaja normal. Tapi dia sangat suka mengganggu siswa-siswi yang ada di sekolahnya. Siapa yang menurutnya pantas menerima pukulannya, maka dia tidak akan segan-segan memberikannya pada waktu itu juga. Banyak memang siswa yang tak suka dengan perilakunya itu tapi ada satu guru yang selalu sabar dalam mengajarinya walaupun guru itu selalu di bentak dan di perlakukan dengan tidak hormat.

                Suatu hari, Heru berjalan-jalan ke  kantin sekolah yang cukup ramai ketika jam istirahat. Dia melihat kakak kelasnya yang sama brandalnya dengannya sedang asyik menyantap makanan ringan di salah satu meja di kantin tersebut. Heru kemudian membeli minuman dan mulai berjalan ke arah mereka. Heru akhirnya melakukan aksi brandalnya dengan menumpahkan minuman itu ke salah satu kakak kelas yang sedari tadi di perhatikannya. Tanpa ada aba-aba, teman dari kakak kelas itu langsung menyerangnya dengan pukulan yang cukup keras tepat di mulutnya. Heru terjatuh dan kemudian mengusap darah yang mengalir dari mulutnya. Dengan tertawa kecil, Heru berkata “ini yang ku mau”. Kemudian dia mengangkat kursi yang ada di dekatnya dan melemparnya tepat kearah mereka. Dengan sigap mereka dapat menghindarinya. Tapi Heru tak habis akal. Dia langsung melayangkan pukulan kearah salah satu kakak kelas yang berada dekat dengannya sampai terjatuh dan Heru langsung menendang meja yang ada di depannya sehingga mereka semua terjatuh kesakitan. Heru kemudian tertawa. Heru masih tidak puas dengan perbuatannya ituu karna menurutnya tidak ada perlawanan dari kakak-kakak kelasnya itu. “Bagaimana caranya agar mereka benar-benar berkelahi denganku” katanya dalam hati. Heru mendapatkan ide untuk melempar mereka kembali dengan kursi. Belum sempat Heru melemparnya, dia langsung di tampar oleh guru BP kemudian tangannya di di pegang oleh satpam karna ingin melayangkan pukulan ke guru BP. “Apa-apaan ini” kata guru BP yang kemudian membantu kakak-kakak kelas itu untuk berdiri. Guru BP pun membawa mereka ke ruang BP untuk di minta pertanggung jawaban.
                Di ruang BP, kakak-kakak kelas itu menceritakan kejadian sebenarnya kepada guru BP. Heru tak dapat mengelak karna memang ini akibat ulahnya. Sejurus kemudian, tamparan kedua mendarat di wajahnya lagi. Heru tidak tahan lagi karna sedari tadi hanya dia saja yang di hukum fisik. “Apakah bapak tidak bosan menampar saya?” katanya dengan nada sedikit mengejek. Tanpa ada jawaban dari guru BP yang terdiam mendengar perkataannya itu, dia kemudian meneruskannya.  ‘kalau aku sih, bosannya dengar bapak ceramah. Apalagi ceramahnya sampai berjam-jam. Kalau boleh jujur sih, aku pengen mual setiap bapak menceramahi aku. Kalau tidak ada lagi yang perlu, saya akan mencatat nama saya di buku harian ku ini. Ok selesai. Terima kasih. Selamat siang” katanya yang kemudian keluar dari ruang BP setelah menuliskan namanya di buku hitam sekolah. Seperti biasanya, Heru tidak masuk jam pelajaran. Kerjanya hanya  nongkrong di kantin sendirian karna memang tidak ada siswa atau siswi yang mau memperteman Heru. Hampir 3 jam Heru nongkrong di kantin, bel pertanda jam pelajaran berakhirpun berbunyi. Segera Heru menuju kelasnya dan mengambil tas ransel miliknya dan kemudian dia pulang ke rumah dengan berjalan kaki.
                Sesampainya di rumah, Heru melihat ibunya sedang sakit parah dan tidak tahu apa yang harus di perbuatnya. “Heru, kamu sudah pulang nak. Sini nak temani ibu” kata ibunya sembari menyuruh Heru untuk mendekatinya yang sedang sakit parah di atas tempat tidur. “ Kamu berantam lagi ya di sekolah. Ibu sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya menasehatimu. Kau adalah harta ibu satu-satunya. Kau yang kelak akan mendoakan ibu kalau ibu sudah pergi. Kau anak yang baik nak. Ibu sangat ingin melihatmu berubah atau kalau kau tak bisa memenuhi permintaan ibu, tolong akhiri semua ini. Ibu sudah tak sanggup menanggungnya” kata ibu kepada Heru yang kemudian di barengi dengan batuk-batuk. Ternyata ibu batuk darah dan tiba-tiba pingsan. Heru sangat panik melihat kejadian itu dan langsung melarikannya ke rumah sakit dengan naik taksi.
                Sesampainya di rumah sakit, Heru kemudian membawa ibunya ke ruang ICU di dampingi oleh perawat lain. Tak berapa lama, dokter datang kemudian memeriksa kondisi ibu Heru. Heru hanya menunggu dokter dari luar ruangan ICU. Hampir setengah jam Heru menunggu ternyata dokterpun muncul dengan muka muram. “maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi ibu anda tidak tertolong. Maaf kan kami” kata dokter kemudian memegang pundak Heru dan melangkah meninggalkannya.  Heru sangat terpukul mendengar perkataan dari dokter. Dan terlintaslah di benaknya untuk mengakhiri semua ini karna dia tidak mungkin dapat hidup sendiri. Maka terlintaslah di benaknya untuk bunuh diri. Ketika perjalanannya pulang ke rumah untuk bunuh diri, dia melihat ada golok di atas gerobak sate. Dengan segera dia mengambilnya dan melakukan aksinya.Belum sempat nyawanya berpisah dari tubuhnya, ternyata yang punya gerobak datang dan memarahi Heru karna mengira Heru menculik goloknya. Heru yang gagal melakukan aksinya pun semakin ingin untuk mengakhiri hidupnya. Maka ketika dia sedang berjalan di suatu daerah yang memang cukup sepi, dia membaringkan tubuhnya di tengah jalan dengan maksud agar ada kendaraan yang lewat kemudian menabraknya hingga mati. Sudah hampir 1 jam dia berbaring  di tengah jalan tapi belum ada juga kendaraan yang lewat. Tiba-tiba dari kejauhan datang kendaraan polisi yang sedang patroli. Polisi itu pun menangkap Heru karna mengira bahwa Heru adalah kawanan begal yang sering beraksi di daerah tersebut. Heru terus memberontak dan membela diri agar polisi itu yakin bahwa dia bukanlah salah satu dari kawanan begal yang di maksud oleh polisi itu. Tapi apa mau dikata. Keyakinan polisi tersebut tak terkoyahkan lagi. Dan Heru akhirnya dibawa ke kantor polisi untuk di proses selanjutnya.
                Setibanya di kantor polisi, Heru terus ditanyai aksi-aksi begal di daerah itu. Heru hanya melongo dan tidak satupun pertanyaan polisi itu dapat di jawab oleh Heru. Polisi itu kemudian kesal melihat perilaku Heru yang tidak dapat menjawab pertanyaan darinya dan sikapnya yang pura-pura baik. Polisi itu pun pergi ke ruangan lain untuk mengambil data dan menanyai polisi lain tentang ciri-ciri kawanan orang-orang yang membegal di daerah tersebut. Ketika polisi itu pergi, Heru menemukan pistol di meja yang tepat di sampingnya sekarang. “Apa gunanya hidup lagi” pikirnya. Kemudian mengarahkan pistol tersebut ke kepalanya. Tapi ya, kalau memang maut belum datang mana mungkin kita dapat mempercepatnya. Pistol tersebut ternyata hanya mainan anak perwira polisi di kantor tersebut. Heru mengetahuinya karna ketika dia mau mengarahkan pistolnya ke kepalanya, anak itu datang dan langsung mengambilnya dari tangan Heru. Dia kembali kecewa karna gagal lagi untuk mengakhiri hidupnya . Setelah polisi yang menanyainya itu datang, Heru kemudian di bebaskan karna dianggap tidak bersalah dan polisi itupun meminta maaf kepada Heru. “Gimana kalau bapak buat laporan palsu saja. kemudian menghukum mati saya” kata Heru yang berbisik kepada polisi itu. “Maaf pak, kami tidak dapat melakukannya. Kalau saya meakukannya, saya yang nanti bisa di hukum mati pak. Maaf sekali lagi pak” kata polisi itu dengan wajah bingung karna mungkin baru kali ini dia menemukan orang jelas-jelas ingin di hukum mati tanpa ada alasan tertentu. Setelah itu Heru keluar kantor dan mulai melangkahkan kakinya ke rumah untuk beristirahat karna Heru sudah lelah dengan semua peristiwa yang dia alami seharian ini. “Mati aja susah, apalagi untuk hidup” katanya dalam hatinya.
                Ketika Heru keluar dari kantor polisi dia kemudian melihat kakak-kakak kelasnya yang dulu di pukuli sedang mengendarai sepeda motor mereka masing-masing dengan sombongnya. Heru kemudian tersadar akan dosa-dosanya selama ini dan ingin memperbaiki semuanya. Hampir seperempat jalan dia berjalan, terdengarlah suara adzan. “Apakah aku masih di terima untuk bertobat? Apakah Allah akan menerima tobat anak durhaka dan penuh dosa sepertiku. Bismilla. Mudah-mudahan tobatku di terima” katanya Heru yang kemudian melangkah ke arah mesjid yang tepat berada di sampingnya saat ini. Memang Heru sudah 10 tahun tidak pernah ke mesjid lagi semnjak ayahnya meninggal dunia dan merenggut  semua kebahagiaan dalam hidupnya. Hidupnya kemudian hancur dan akhirnya dia menjasi anak brandal seperti sekarang ini. Cukup lama memang Heru melaksanakan sholatnya karna memang dia sudah bertobat dengan hati yang ikhlas hanya mengharapkan ampunan dan ridho Allah. Hampir setengah jam dia melaksanakan sholat ditambah dengan doa yang mungkin adalah doa ampunan yang cukup panjang. Setelah selesai sholat, hatinya sudah mulai tenang. Heru pun melanjutkan perjalanannya ke rumah bukan dengan maksud meratapi nasibnya, melainkan ingin merubah hidupnya kearah yang lebih baik. Sambil berjalan, Heru mengingat perbuatan-perbuatan buruknya yang lalu. Ketika rumah Heru sudah dekat, dia melihat ada seorang kakek tua buta yang menyebrangi jalan. Kemudian terlintas di benaknya untuk membantu kakek tersebut. Heru memegang tangan kakek itu dan mengucapkan niat baiknya itu. Ketika mereka sudah berada tepat di tengah jalan, datanglah mobil dengan kecepatan tinggi mengarah kepada mereka. Heru yang melihat kendaraan itu langsung panik dan hanya bisa mendorong kakek itu sedangkan dirinya tertabrak. Mobil yang menbrak heru tak berhenti, malah melanjutkan perjalanannya. Heru tergeletak di tengah jalan dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya akibat benturan yang cukup keras dengan aspal ketika dia terhempas jauh dari arahnya berdiri. Sedangkan kakek itu tergeletak di trotoar jalan dalam keadaan pingsan.
                Hampir 3 jam, Heru dan kakek itu tergeletak di jalan tanpa ada yang membantu mereka. Setiap kendaraan yang melihat mereka hanya berhenti sejenak kemudian melanjutkan perjalanan mereka tanpa ada bantuan yang mereka berikan. Tiba-tiba dari kejauhan datang sebuah kendaraan yang ternyata adalah kendaraan guru Heru yang memang sedari dulu sangat menyayanginya. Gurunya itu menangis melihat keadaan Heru dan kakek yang tergeletak di jalan tanpa ada yang membantu. Kemudian dia membawa mereka ke rumah sakit untuk diobati. Ternyata harapan Heru yang dulu diinginkannya terkabulkan, harapan untuk mengakhiri hidupnya. Dia tidak tertolong lagi karna sudah terlalu banyak darah yang keluar dari kepalanya sedangkan kakek itu selamat tanpa ada luka sedikitpun. Dalam tidur panjangnya itu, Heru ersenyum manis. Mungkin karna dia telah melakukan tugasnya sebagai manusia untuk berbuat baik kepada sesama walaupun itu yang pertama dan terakhir untuknya.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar