Kamis, 17 Maret 2016

Siapa Tau?


Siapa Tau?
By : "Hoamz"

Kelas baru, hari ini aku berdiri di ruangan berbeda. Ya, aku sudah kelas 6 SD sekarang. Sudah saatnya fokus untuk belajar. Hari-hari biasanya aku memang hanya bermain dan bermain. Aku tidak mengenal kata belajar di perbendaharaan kataku. Tapi untuk sekarang tidak, aku harus belajar. Terlebih lagi aku harus bisa mengungguli orang yang duduk di belakang bangku ku sekarang. Seorang wanita yang sangat menyebalkan.
Tari namanya. Seorang wanita yang mengisi hari hari ku dengan kesialan. Di kelas 5 dulu kami satu meja, itu karena kami selalu berantam. Ibu guru menyuruh kami duduk semeja agar akur, tapi hahaha nyatanya makin hancur. 
Tahun ini tahun terakhirku di sekolah tercinta ini. Ingin rasanya lebih lama disini tapi itu tidak mungkin.

"Drak" Suara buku terjatuh membuatku tersadar dari lamunanku. 
"Jiah, makanya kalau jalan hati-hati..!" Ejekku pada Tari.
"Biasa aja, ini juga hati-hati, gara-gara kursimu tuh."
"Eh eh, malah nyalahin kursiku."
"Yaiya, gara-gara kursimu kakiku tersenggol"
"Woy, gak usah berantam gara-gara hal sepele. Sudah setahun kalian semeja waktu kelas 5 dulu, masih saja belum akur." Tegur Bayu dari belakang. 


Tari pun akhirnya kembali kebangkunya setelah mengambil bukunya yang terjatuh.Bayu selalu kesal kalau kami berantam. Dan biasanya, dia yang selalu melerai kami kalau sudah berantam.
Beberapa saat kemudian bu guru pun datang. Hari ini kami perkenalan dengan wali kelas yang baru. Kemudian di lanjutkan dengan bercerita tentang SMP favorite di kota ini.
Pukul 13.00 bel berbunyi, waktunya pulang. Aku pun berdiri memimpin salam untuk bu guru. Setelah bu guru menjawab salam, kamipun segera duduk kembali menunggu bu guru keluar. Tapi, saat aku hendak duduk, aku terjatuh. Ternyata bangku ku sudah di geser Tari dari belakang. Semua orang tertawa dalam kelas. 
"Hahaha,, Duduk aja gak bisa" Kata Tari dari belakang.
"Hei, temannya jatuh kok malah di ketawain. Tari, bantu Rizki berdiri." Kata Bu guru.
Taripun membantuku berdiri. 
"Awas kamu Tari!" 
"Eh, udah di bantu malah marah"
"Hei, Ibu gak nyuruh kalian berantam"
"Ibu, sudah dengar dari wali kelas kalian sebelumnya. Memang kalian tidak pernah akur, nanti ibu jodoh in kalian, baru tau"
Mendengar kata kata itu, semuanya tertawa lalu mengejek kami.
"Cie-cie di jodohin"
"Hahaha, gak mungkin aku berjodoh sama dia bu" Kataku dengan keras
"Ha? Siapa juga yang mau" Kata tari Membalas.

Aku masih belum terima dengan perbuatan Tari tadi, akupun memikirkan bagaimana caranya membalas perbuatan Tari. Semalaman aku hanya memikirkan hal tersebut. Dan ketika aku mendapatkan sebuah ide, akupun langsung segera tidur untuk memulai aksi tersebut besok. 
Keesokan harinya, aku membeli sebotol besar minuman bersoda. Kemudian ku baluti dengan kertas hijau agar isinya tidak terlihat. Lalu aku membeli sabun cair. Di sekolah ku lumuri lantai dekat bangku Tari dengan sabun cair. Lalu botol minumannya ku simpan di laci sembari menunggu Tari datang. Beberapa saat kemudian Tari datang, wajahnya muram. Ada sesuatu yang mengganjal batinku untuk tidak membalaskan dendamku padanya hari ini. Namun entah kenapa aku membiarkannya tetap berjalan ke bangkunya. Dan "druaak" dia terjatuh. Akupun datang pura-pura membantunya, lalu setelah di duduk di bangkunya, ku berikan minuman tadi padanya. 

"Terimakasih Ki"
"Iya sama-sama" 
Ketika ia membuka minuman tersebut, "syuuss" minuman bersoda itu keluar menyemprot membahasi wajahnya dan pakaiannya. 
"wahahahaha,,," Aku tertawa terbahak-bahak sejadi-jadinya. Sebelum memberi minuman tadi aku memang sudah mengocoknya lama agar minumannya menyembur keluar saat di buka.

Tari tiba-tiba menamparku, lalu pergi keluar. Aku terheran-heran entah apa yang terjadi. Teman-temanku pun semua menyayangkan perbuatanku. Aku heran, apa yang terjadi? biasanya aku lebih jahil dari ini tapi kenapa baru ini aku di salahkan seperti ini?
Setelah di cari tau, ternyata Orang tua Tari sedang sakit, itu sebabnya tadi ia berwajah murung. Batinku tadi berkata benar. Seharusnya aku tidak mengerjainya tadi. 
Akupun merasa bersalah kepadanya. Tiga hari berlalu, dia masih belum mau berbicara denganku. Padahal aku sudah meminta maaf kepadanya. Teman-temanku menyarankan aku untuk tidak mengganggunya dulu, tunggu dulu sampai dia tenang. Akupun menunggunya sampai ia tenang. Namun beberapa bulan kemudian dia tetap seperti tidak mau berbicara denganku. Hingga akhirnya di perpisahan sekolah, aku mencoba memberanikan berbicara padanya. Dia masih juga tidak mau, dia tidak menghiraukanku dan pergi berkumpul bersama teman-temannya. Aku merasa bersalah dengan kejadian hari itu. 
Saat acara jeda, aku memberanikan diri pergi ke panggung pertunjukan. Kali ini aku meminta maaf padanya dengan menggunakan mic. Rasa bersalahku menghapus rasa maluku di atas panggung.
Taripun akhirnya mau memaafkan ku. Lalu ia memberikan sebuah surat, lalu pergi.
Aku bingung apa isi surat tersebut. Akupun menunda untuk membuka surat tersebut.
Beberapa tahun kemudian, aku terbangun dari tidurku. 
"Ayah-ayah ayo makan" ajak seorang anak kecil padaku.
Akupun berdiri, lalu berjalan menuju ruang makan. Sebelum keluar dari kamar, aku melihat sebuah kertas berbingkai yang terpajang di dinding kamarku. Tulisan yang tak asing untukku. Tulisan seorang sahabat SD ku, Tari. Aku tidak menyangka ia menuliskan sebuah kalimat yang sangat bermakna untukku. Akupun memajangnya di kamarku agar selalu teringat padanya. Ku lanjutkan langkahku menuju dapur. 
"Kok lama sekali sih?" kata istriku.
"Lagi-lagi aku terpesona dengan tulisan indah yang terpajang di dinding kamar kita. I Love You to istriku."
"Haha, kenapa gak dari dulu kita SD? Kan aku duluan jadinya, walaupun dari sebuah surat."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar