Senin, 19 Desember 2016

CINTAI HIDUPMU

Bicara dalam kebisuan
           
          





                 Semua ini sudahku bawa sejak aku lahir ke dunia ini. Tidak ada memang yang ingin seperti aku yang hanya bisa merepotkan dengan kekuranganku ini. Tapi aku bersyukur masih bisa merasakan nikmat hidup yang dijalani ini.  Tidak seperti mereka yang tak bisa merasakan hidup. Cacian memang tak bisa terelakkan dalam kehidupan. Jangankan sahabat, teman saja sulit untuk ku dapatkan. Mungkin bisa saja aku mengeluh dan mengakhiri hidupku. Tubuh yang tak memiliki kedua kaki sempurna dan untuk bicarapun sulit. Tapi sejak kecil aku dibesarkan dari keluarga yang sangat menyayangiku sehingga aku bisa melewati semua beban ini. Dibalik semua kekurangan yang allah berikan kepada kita pasti dibalik itu semua ada kelebihan yang allah berikan hanya untuk kita. Ya, mungkin hobi menulis inilah kelebihanku, karna hanya hobi ini yang bisa membuat aku tenang dan bisa melupakan akan beban-beban yang aku jalani ini. Hobi ini kulakukan dengan sepenuh hati. Menceritakan semua yang terlintas di benakku. Kalau sedang menulis, serasa aku sedang berada di dunia lain yang ku buat sendiri. Dunia yang di dalamnya aku memiliki segalanya. Tubuh yang sempurna dan kehidupan pertemanan yang menyenangkan.

         “Idal, kamu lagi nulis apa nak?” kata ibu menghentikan aktivitasku sekaligus membuyarkan lamunanku. Apa yang bisa aku katakan. Untuk bicara saja, mulut ini seakan tersegel oleh kebisuan. Kemudian aku mengambil selembar kertas kemudian menuliskan kata-kata yang ingin ku katakan. “Idal lagi buat dunia ma. Di sana Idal lagi main kejar-kejaran dengan teman-teman Idal. Di sana juga Idal bercerita banyak dengan mama tentang hari-hari Idal tanpa susah untuk membicarakannya”. Mama yang membaca tulisanku itu seketika menumpahkan air matanya yang kemudian dibarengi dengan pelukan yang mengarah ke tubuhku. Aku yang sedari tadi bingung tentang apa yang terjadi langsung saja menghapus air mata nya kemudian mengambil kertas, yang kemudian menulis “ Mama kenapa? Idal jahat ya ma. Maafin Idal ya ma. Idal gak bermaksud menyakiti hati mama”. Mama yang membaca  tulisanku kemudian mengelus-elus kepalaku dengan tangannya kemudian berkata “ tidak sayang, kamu gak jahat kok. Tadi mama hanya kemasukan debu”. Kemudian mama pergi ke arah dapur rumah. Entah apa yang dilakukan mama di sana tapi sejenak aku mendengar suara tangisan yang membuatku tersentuh. Suara tangisan itu seperti suara tangisan seorang ibu kepada anaknya.
            Sekitar 3 menitan aku mendengar tangisan itu dari arah dapur. Aku mulai berpikir apakah aku juga ikut menangis. Tapi untuk apa? Toh, allah sudah memberikan keluarga yang sangat menyayangiku dan kehidupan yang baik seperti ini. seharusnya bersyukur bukan malah bersedih.
            Selama 3 jam aku terus berada di mejaku untuk hidup di dunia yang ku buat sendiri. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk punggungku tanpa aku sadari. Langsung saja aku kaget di buatnya dan sejurus kemudian mata ini melihat ke belakang tubuhku. Eh, ternyata si bocah tengik ini. dia lah adik kesayanganku karna Cuma dia adikku. Dialah yang menjadi tulang punggung keluarga kami sekarang setelah ayah meninggal ketika menyelamatkanku dari kecelakaan mobil 10 tahun yang lalu. Lagi-lagi itu menjadikan beban kepadaku karna aku merasa  bahwa akulah penyebab kematian ayah. Tapi ibu menyadarkanku bahwa itu seudah menjadi takdir yang diberikan allah kepada kami. Adikku putus sekolah dan mulai mencari kerja sepeninggalan ayah. Dia putus sekolah sejak kelas 2 SD yang seharusnya bercanda ria dan bermain gembira dengan temannya tapi malah menjadi tulang punggung keluarga. Mungkin jika dia sekolah sudah kelas 3 SMA tapi sayang dia tidak merasakannya. Itu semua karna diriku yang hanya menjadi beban dalam keluarga ini. sepanjang kehidupanku dengan keluargaku ini, tidak pernah sekalipun dia memarahiku malah dia sering berkata kepadaku bahwa dia akan membahagiakan aku dan ibu. Dia juga sering menasehatiku dan dia juga sering berkata aku adalah kakak yang paling istimewa di dunia ini yang hanya di milikinya.
            Setelah dia menepuk punggungku, dia langsung berlari ke dapur sambil tertawa. “ah memang anak-anak” pikitku. Aku kemudian melanjutkan tulisanku dan alhamdulillah sedikit lagi cerita ini selesai. Tapi perutku seperti berbunyi bertanda kalau energi ini sudah habis untuk memikirkan semuanya. Kemudian aku pun mulai merangkak lagi ke dapur sambil membawa kertas bertuliskan “ Ma, IDAL lapar” menyodorkan kertas ini kepada mama sambil tersenyum. Mama kemudian membelai rambutku dan mulai untuk menyiapkan makanan untukku dan kemudian langsung mengajakku ke ruang tamu.
            Di ruang tamu. Mama menyuapi aku untuk makan dengan penuh kasih sayang. Memang itulah yang paling aku senangi dan paling ku tunggu-tunggu. waktu memang begitu cepat. Malam mulai menyelimuti hariku lagi. Sendirian di suatu kamar. Sakit ini mulai menyelimutiku lagi. Aku memang ingin menceritakan kesakitan yang ku derita selama 2 tahun ini.  sakit di sekitar kepala yang kadang mengakibatkan hidungku mengeluarkan darah. Tapi aku tidak ingin memberatkan adik dan ibuku lagi. Sehingga sakit ini hanya aku yang yag mengetahuinya. Biasanya kalau sakit ini mulai datang lagi, aku hanya bisa berdzikir dan terus menyebut nama Allah supaya sakitnya dirinya dan aku diberi kekuatan.
            Cahaya mentari menerpa wajahku yang bersih dan lesu. Ternyata tadi malam dzikir dapat mengalahkan penyakit itu lagi. Tanpa pikir panjang aku langsung turun dari tempat tidur dan segera menuju ke meja kerjaku untuk melanjutkan tulisanku yang tertunda.  Selama 3 jam aku berkelut degan tulisanku. Akhirnya karangan ku selesai dengan akhir happy ending. Aku langsung saja memberikannya pada adikku untuk di bawa ke penerbit. Tanpa pikir panjang adikku langsung mengiyakannya dan menuju tempat penerbit terdekat.
            Hari ini tidak seperti biasanya. Hari ini hatiku merasa cemas yang luar biasa. Dan entah kenapa aku sedih sampai mengeluarkan air mata. Entah apa yang terjadi tetapi melewatinya seperti biasa saja. seharian aku hanya mengurung diri di kamar. Entah kenapa? Aku hanya bisa berdiam diri tanpa ada aktivitas yang ku lakukan sampai malam tiba.           
            Ketika aku mau tidur, tiba-tiba rasa sakit yang sering ku rasakan seakan hilang begitu saja tanpa aku rasakan. malam ini aku tidur sangat lelap. Sampai aku terbangun sekitar jam 3 pagi mendengar suara-suara yang mengatakan “ dirikanlah sholat selagi engkau bisa. Bersyukurlah engkau karna Allah akan mengangkat derajatmu”. Entah apa maksud dari suara itu, yang pasti aku segera melaksanakan sholat tahajjud dengan terlebih dahulu merangkak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Selesai berwudhu aku kembali ke kamarku dan mulai melaksanakan sholat tahajjud.
            Tidak seperti biasa. Sholat yang ku laksanakan ini begitu tenang dan sangat nyaman. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang bergerak dari tenggorokanku sampai akhirnya lepas dari tubuhku. Ketika lepas dari tubuhku, aku yang baru saja sujud di raka’at kedua entah mengapa mulutku langsung mengucapkan syahadat dengan suara yang cukup jelas diiringi dengan senyuman di pipiku. Kemudian aku menutup mata untuk yang terakhir kalinya.
            Ternyata Idal mengidap penyakit kanker otak yang dideritanya selama 2 tahun belakangan ini tapi di terus berusaha untuk menyembunyikannya dari ibu dan adiknya. Ketika ditemukan di kamarnya, Idal dalam keadaan sujud dengan senyum manisnya telah meninggal dunia. Ini menjadi keadaan yang sangat berat bagi ibunya. Karena telah ditinggalkan oleh anak yang sangat dia sayangi.

            Sebelum dimakamkan ada berita dari penerbit, ternyata Novel Idal telah diterbitkan dan banyak orang yang langsung menyukainya. Ibunya penasaran dengan isi Novel Idal. Ternyata di hari pertama diterbitkan sudah akan di terbitkan lagi terbitan kedua.Ternyata di Novel itu, Idal ingin sempurna dan selalu membahagiakan ibu dan adiknya. Di sana juga adeknya sudah kuliah berkat usaha Idal. akhirnya ibu dan adiknya merasa bangga dengan pencapaian Idal. Di akhir Novel tersebut Idal mengatakan bahwa mungkin orang-orang yang membaca novelnya tak akan menemuinya lagi dalam keadaan hidup pada terbitan kedua seperti kenyataan nyahari ini. Ibunya kemudian menangis dengan sejadi-jadinya kemudian berkata  “selamat jalan anakku. Hatimu bagaikan malaikat buatku”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar