Bicara dalam kebisuan
Semua
ini sudahku bawa sejak aku lahir ke dunia ini. Tidak ada memang yang ingin
seperti aku yang hanya bisa merepotkan dengan kekuranganku ini. Tapi aku
bersyukur masih bisa merasakan nikmat hidup yang dijalani ini. Tidak seperti mereka yang tak bisa merasakan
hidup. Cacian memang tak bisa terelakkan dalam kehidupan. Jangankan sahabat,
teman saja sulit untuk ku dapatkan. Mungkin bisa saja aku mengeluh dan
mengakhiri hidupku. Tubuh yang tak memiliki kedua kaki sempurna dan untuk
bicarapun sulit. Tapi sejak kecil aku dibesarkan dari keluarga yang sangat
menyayangiku sehingga aku bisa melewati semua beban ini. Dibalik semua
kekurangan yang allah berikan kepada kita pasti dibalik itu semua ada kelebihan
yang allah berikan hanya untuk kita. Ya, mungkin hobi menulis inilah
kelebihanku, karna hanya hobi ini yang bisa membuat aku tenang dan bisa
melupakan akan beban-beban yang aku jalani ini. Hobi ini kulakukan dengan sepenuh
hati. Menceritakan semua yang terlintas di benakku. Kalau sedang menulis,
serasa aku sedang berada di dunia lain yang ku buat sendiri. Dunia yang di
dalamnya aku memiliki segalanya. Tubuh yang sempurna dan kehidupan pertemanan
yang menyenangkan.
“Idal, kamu lagi nulis apa nak?” kata
ibu menghentikan aktivitasku sekaligus membuyarkan lamunanku. Apa yang bisa aku
katakan. Untuk bicara saja, mulut ini seakan tersegel oleh kebisuan. Kemudian
aku mengambil selembar kertas kemudian menuliskan kata-kata yang ingin ku
katakan. “Idal lagi buat dunia ma. Di sana Idal lagi main kejar-kejaran dengan
teman-teman Idal. Di sana juga Idal bercerita banyak dengan mama tentang
hari-hari Idal tanpa susah untuk membicarakannya”. Mama yang membaca tulisanku
itu seketika menumpahkan air matanya yang kemudian dibarengi dengan pelukan yang
mengarah ke tubuhku. Aku yang sedari tadi bingung tentang apa yang terjadi
langsung saja menghapus air mata nya kemudian mengambil kertas, yang kemudian
menulis “ Mama kenapa? Idal jahat ya ma. Maafin Idal ya ma. Idal gak bermaksud
menyakiti hati mama”. Mama yang membaca
tulisanku kemudian mengelus-elus kepalaku dengan tangannya kemudian
berkata “ tidak sayang, kamu gak jahat kok. Tadi mama hanya kemasukan debu”.
Kemudian mama pergi ke arah dapur rumah. Entah apa yang dilakukan mama di sana
tapi sejenak aku mendengar suara tangisan yang membuatku tersentuh. Suara
tangisan itu seperti suara tangisan seorang ibu kepada anaknya.
Sekitar
3 menitan aku mendengar tangisan itu dari arah dapur. Aku mulai berpikir apakah
aku juga ikut menangis. Tapi untuk apa? Toh, allah sudah memberikan keluarga
yang sangat menyayangiku dan kehidupan yang baik seperti ini. seharusnya
bersyukur bukan malah bersedih.
Selama
3 jam aku terus berada di mejaku untuk hidup di dunia yang ku buat sendiri. Tiba-tiba
saja ada seseorang yang menepuk punggungku tanpa aku sadari. Langsung saja aku
kaget di buatnya dan sejurus kemudian mata ini melihat ke belakang tubuhku. Eh,
ternyata si bocah tengik ini. dia lah adik kesayanganku karna Cuma dia adikku. Dialah
yang menjadi tulang punggung keluarga kami sekarang setelah ayah meninggal
ketika menyelamatkanku dari kecelakaan mobil 10 tahun yang lalu. Lagi-lagi itu
menjadikan beban kepadaku karna aku merasa
bahwa akulah penyebab kematian ayah. Tapi ibu menyadarkanku bahwa itu
seudah menjadi takdir yang diberikan allah kepada kami. Adikku putus sekolah dan
mulai mencari kerja sepeninggalan ayah. Dia putus sekolah sejak kelas 2 SD yang
seharusnya bercanda ria dan bermain gembira dengan temannya tapi malah menjadi
tulang punggung keluarga. Mungkin jika dia sekolah sudah kelas 3 SMA tapi
sayang dia tidak merasakannya. Itu semua karna diriku yang hanya menjadi beban
dalam keluarga ini. sepanjang kehidupanku dengan keluargaku ini, tidak pernah
sekalipun dia memarahiku malah dia sering berkata kepadaku bahwa dia akan
membahagiakan aku dan ibu. Dia juga sering menasehatiku dan dia juga sering
berkata aku adalah kakak yang paling istimewa di dunia ini yang hanya di
milikinya.
Setelah
dia menepuk punggungku, dia langsung berlari ke dapur sambil tertawa. “ah memang
anak-anak” pikitku. Aku kemudian melanjutkan tulisanku dan alhamdulillah
sedikit lagi cerita ini selesai. Tapi perutku seperti berbunyi bertanda kalau
energi ini sudah habis untuk memikirkan semuanya. Kemudian aku pun mulai
merangkak lagi ke dapur sambil membawa kertas bertuliskan “ Ma, IDAL lapar”
menyodorkan kertas ini kepada mama sambil tersenyum. Mama kemudian membelai
rambutku dan mulai untuk menyiapkan makanan untukku dan kemudian langsung
mengajakku ke ruang tamu.
Di
ruang tamu. Mama menyuapi aku untuk makan dengan penuh kasih sayang. Memang itulah
yang paling aku senangi dan paling ku tunggu-tunggu. waktu memang begitu cepat.
Malam mulai menyelimuti hariku lagi. Sendirian di suatu kamar. Sakit ini mulai
menyelimutiku lagi. Aku memang ingin menceritakan kesakitan yang ku derita
selama 2 tahun ini. sakit di sekitar
kepala yang kadang mengakibatkan hidungku mengeluarkan darah. Tapi aku tidak
ingin memberatkan adik dan ibuku lagi. Sehingga sakit ini hanya aku yang yag
mengetahuinya. Biasanya kalau sakit ini mulai datang lagi, aku hanya bisa
berdzikir dan terus menyebut nama Allah supaya sakitnya dirinya dan aku diberi
kekuatan.
Cahaya
mentari menerpa wajahku yang bersih dan lesu. Ternyata tadi malam dzikir dapat
mengalahkan penyakit itu lagi. Tanpa pikir panjang aku langsung turun dari
tempat tidur dan segera menuju ke meja kerjaku untuk melanjutkan tulisanku yang
tertunda. Selama 3 jam aku berkelut
degan tulisanku. Akhirnya karangan ku selesai dengan akhir happy ending. Aku langsung
saja memberikannya pada adikku untuk di bawa ke penerbit. Tanpa pikir panjang
adikku langsung mengiyakannya dan menuju tempat penerbit terdekat.
Hari
ini tidak seperti biasanya. Hari ini hatiku merasa cemas yang luar biasa. Dan entah
kenapa aku sedih sampai mengeluarkan air mata. Entah apa yang terjadi tetapi
melewatinya seperti biasa saja. seharian aku hanya mengurung diri di kamar. Entah
kenapa? Aku hanya bisa berdiam diri tanpa ada aktivitas yang ku lakukan sampai
malam tiba.
Ketika
aku mau tidur, tiba-tiba rasa sakit yang sering ku rasakan seakan hilang begitu
saja tanpa aku rasakan. malam ini aku tidur sangat lelap. Sampai aku terbangun
sekitar jam 3 pagi mendengar suara-suara yang mengatakan “ dirikanlah sholat
selagi engkau bisa. Bersyukurlah engkau karna Allah akan mengangkat derajatmu”.
Entah apa maksud dari suara itu, yang pasti aku segera melaksanakan sholat
tahajjud dengan terlebih dahulu merangkak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Selesai berwudhu aku kembali ke kamarku dan mulai melaksanakan sholat tahajjud.
Tidak
seperti biasa. Sholat yang ku laksanakan ini begitu tenang dan sangat nyaman. Tapi
aku merasakan ada sesuatu yang bergerak dari tenggorokanku sampai akhirnya
lepas dari tubuhku. Ketika lepas dari tubuhku, aku yang baru saja sujud di raka’at
kedua entah mengapa mulutku langsung mengucapkan syahadat dengan suara yang
cukup jelas diiringi dengan senyuman di pipiku. Kemudian aku menutup mata untuk
yang terakhir kalinya.
Ternyata
Idal mengidap penyakit kanker otak yang dideritanya selama 2 tahun belakangan
ini tapi di terus berusaha untuk menyembunyikannya dari ibu dan adiknya. Ketika
ditemukan di kamarnya, Idal dalam keadaan sujud dengan senyum manisnya telah
meninggal dunia. Ini menjadi keadaan yang sangat berat bagi ibunya. Karena telah
ditinggalkan oleh anak yang sangat dia sayangi.
Sebelum
dimakamkan ada berita dari penerbit, ternyata Novel Idal telah diterbitkan dan
banyak orang yang langsung menyukainya. Ibunya penasaran dengan isi Novel Idal.
Ternyata di hari pertama diterbitkan sudah akan di terbitkan lagi terbitan
kedua.Ternyata di Novel itu, Idal ingin sempurna dan selalu membahagiakan ibu
dan adiknya. Di sana juga adeknya sudah kuliah berkat usaha Idal. akhirnya ibu
dan adiknya merasa bangga dengan pencapaian Idal. Di akhir Novel tersebut Idal
mengatakan bahwa mungkin orang-orang yang membaca novelnya tak akan menemuinya
lagi dalam keadaan hidup pada terbitan kedua seperti kenyataan nyahari ini.
Ibunya kemudian menangis dengan sejadi-jadinya kemudian berkata “selamat jalan anakku. Hatimu bagaikan
malaikat buatku”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar