Senin, 19 Desember 2016

CINTAI HIDUPMU

Bicara dalam kebisuan
           
          





                 Semua ini sudahku bawa sejak aku lahir ke dunia ini. Tidak ada memang yang ingin seperti aku yang hanya bisa merepotkan dengan kekuranganku ini. Tapi aku bersyukur masih bisa merasakan nikmat hidup yang dijalani ini.  Tidak seperti mereka yang tak bisa merasakan hidup. Cacian memang tak bisa terelakkan dalam kehidupan. Jangankan sahabat, teman saja sulit untuk ku dapatkan. Mungkin bisa saja aku mengeluh dan mengakhiri hidupku. Tubuh yang tak memiliki kedua kaki sempurna dan untuk bicarapun sulit. Tapi sejak kecil aku dibesarkan dari keluarga yang sangat menyayangiku sehingga aku bisa melewati semua beban ini. Dibalik semua kekurangan yang allah berikan kepada kita pasti dibalik itu semua ada kelebihan yang allah berikan hanya untuk kita. Ya, mungkin hobi menulis inilah kelebihanku, karna hanya hobi ini yang bisa membuat aku tenang dan bisa melupakan akan beban-beban yang aku jalani ini. Hobi ini kulakukan dengan sepenuh hati. Menceritakan semua yang terlintas di benakku. Kalau sedang menulis, serasa aku sedang berada di dunia lain yang ku buat sendiri. Dunia yang di dalamnya aku memiliki segalanya. Tubuh yang sempurna dan kehidupan pertemanan yang menyenangkan.

Jumat, 18 Maret 2016

Omong Kosong

“By Gun”

                Langkah kakiku bergerak cepat, seperti biasa melintasi jalan berbatu menuju sekolah. Tatapan ku kosong, tidak punya tujuan sama sekali. Hari-hari berulang terus menerus. Hidup serasa tidak berwarna. Jalanan ramai seakan sepi, hanya aku sendiri. Bosan rasanya selalu seperti ini. Namun, entah bagaimana caranya untuk menghilangkan rasa jenuh yang sudah akut ini.
                Sampai di gerbang sekolah, satpam menatapku tajam. Seakan hendak menyuruhku berlari. Namun, langkah kakiku kali ini melambat menantang sang penjaga gerbang. Kali ini ia menutup pagarnya sedikit demi sedikit. Tapi tetap saja hatiku keras, aku tetap berjalan dengan santainya. Pertarungan antara batin kamipun berakhir, kemenangan berada di tanganku. Ia meninggalkan sedikit celah untuk ku lewati. Beberapa saat kemudian suaranya keluar keras menyuruh siswa-siswa berlari di luar sana.

Sampah Di Negeri Nan Indah

By : "Hoamz"

Ruang kelas hening, tidak ada yang berani berbicara. Pak Fery yang merupakan guru terpandang di sekolah ini baru saja memarahi kami semua. Dia tidak tahan melihat kelakuan kami murid-muridnya.
"Kalian sudah keterlaluan!. Mau jadi apa kalian nanti?"
Kata-kata itulah yang biasa ia pakai saat sudah marah. Kemarin, Andi dan Pa'i kedapatan mengkopek saat ujian lalu membagi-bagikannya dengan kami sekelas. Karena itu, sebagai Wali kelas ia malu dengan laporan Pengawas Ujian kami kemarin. Ia meluapkan semua emosinya pada kami.
Pak Ferypun, menatap tajam setiap orang di kelas ini. Tatapannya terhenti ketika melihat wajahku.

25 Tahun silam. Di sebuah kota kecil, beberapa remaja bergegas pergi kesekolah. Jalanan di pagi hari seperti biasa, padat dengan kendaraan yang hendak menuju kesekolah ataupun kekantor.
"Tadi malam, ibu mendapat kabar gembira. Salah satu siswa kita meraih prestasi yang membanggakan. Santoso, ayo maju kedepan". Kata ibu kepala sekolah sembari memanggil Santoso.
"Santoso, mendapat Juara 1 olimpiade Fisika tingkat provinsi. Tepuk tangan anak-anak"
Semuanya bertepuk tangan, kagum dengan apa yang telah di capai Santoso. Ya, Santoso selalu mendapatkan prestasi yang membanggakan. Dalam satu semester ini, dia sudah mendapatkan 5 piala. Mulai dari Olimpiade, Karya Tulis, Olahraga, dan banyak lainnya.

Kamis, 17 Maret 2016

Siapa Tau?


Siapa Tau?
By : "Hoamz"

Kelas baru, hari ini aku berdiri di ruangan berbeda. Ya, aku sudah kelas 6 SD sekarang. Sudah saatnya fokus untuk belajar. Hari-hari biasanya aku memang hanya bermain dan bermain. Aku tidak mengenal kata belajar di perbendaharaan kataku. Tapi untuk sekarang tidak, aku harus belajar. Terlebih lagi aku harus bisa mengungguli orang yang duduk di belakang bangku ku sekarang. Seorang wanita yang sangat menyebalkan.
Tari namanya. Seorang wanita yang mengisi hari hari ku dengan kesialan. Di kelas 5 dulu kami satu meja, itu karena kami selalu berantam. Ibu guru menyuruh kami duduk semeja agar akur, tapi hahaha nyatanya makin hancur. 
Tahun ini tahun terakhirku di sekolah tercinta ini. Ingin rasanya lebih lama disini tapi itu tidak mungkin.

"Drak" Suara buku terjatuh membuatku tersadar dari lamunanku. 
"Jiah, makanya kalau jalan hati-hati..!" Ejekku pada Tari.
"Biasa aja, ini juga hati-hati, gara-gara kursimu tuh."
"Eh eh, malah nyalahin kursiku."
"Yaiya, gara-gara kursimu kakiku tersenggol"
"Woy, gak usah berantam gara-gara hal sepele. Sudah setahun kalian semeja waktu kelas 5 dulu, masih saja belum akur." Tegur Bayu dari belakang.