Selasa, 24 Maret 2015

Buku yang berbicara

             Anak malas bernama lukman. Ya.... Hari-hari di jalanin dengan penuh kemalasan. Pulang sekolah langsung bermain tanpa memikirkan pelajaran di sekolahnya. Ibunya sering memarahainya. Namun ia sama sekali tidak menghiraukannya.
           Suatu ketika ia melihat temannya sedang asik membaca, ia penasaran dengan bacaan temannya tersebut. ternyata temannya sedang membaca buku pelajaran. "eh, apa enaknya membaca buku pelajaran?" Kata lukman. "Seru lah, kita tau apa yang tidak kita tau sebelumnya." Jawab temannya.  "Lebih seru bermain lagi... main yuk?" Ajak Lukman. "Akh, enggak ah masih seru". Tolak temannya. Lukman kesal karena temannya tidak mau di ajak bermain.

          Keesokan harinya. Ia merasa heran, teman-temannya tiba-tiba gemar membaca. Semua asyik dengan buku bacaannya masing-masing.Ia merasa bosan, karena tidak ada satupun dari mereka yang mau di ajak bermain.
         "Nih ada buku yang mudah di pahami." Kata temannya. "akh enggak ah, gak seru" Jawan Lukman. "Eh, besok kita ujian loh, nanti kamu gak dapat". Kata temannya. "Bodo amat" katanya sambil melemparkan buku pemberian temannya. Temannya merasa sedih, kemudian ia pergi sambil mengambil buku yang di lempar oleh Lukman tadi.
         Ujian tiba, Lukman tak mampu menjawab satu soal pun. Namun demikian ia tidak peduli dengan semuanya. Ia dengan santainya tidur saat ujian. Ketika kertas jawaban di nilai dan dibagikan, ternyata dia mendapatkan nilai 0. Ia merasa terpukul akan itu, saat dirumahnya ia dimarahi orang tuanya ketika mereka tau nilai Lukman yang begitu buruk.
        Lukmanpun menangis lalu berlari kekamarnya, di sana ia terkejut ketika melihat semua bukunya hidup dan bergerak. Buku-buku itu juga berbicara, mereka berkata "Baca...! Baca...! Baca...!".
Ia sangat ketakutan. Ia pun mencoba keluar dari kamarnya namun sayang, kamarnya ternyata tiba-tiba terkunci. Namun dari luar kamarnya ada suara.. Bangun..! Bangun..! Bangun...!
      Ternyata dia tertidur di kelas setelah melemparkan buku pemberian temannya. Ia bersyukur ternyata hanya mimpi. Lalu kemudian ia pergi ketemannya tadi, ia kemudian meminta maaf kepada temannya tersebut. Ia lalu membaca buku yang telah ia lempar tadi. Ia juga berjanji pada dirinya sendiri agar tidak malas lagi.
Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar