Hidupku memang kacau. Kacau karna aku tak dapat mengetahui arti hidupku
di dunia ini. Yang ku tahu selalu bahagia dan jalani saja hidup ini dengan
apapun yang engkau bisa lakukan. Hidup yang ku jalani sungguh hancur. Narkoba, zina, alcohol, membunuh, mencuri sudah menjadi kegiatan rutin yang ku
lakukan setiap harinya. Aku disegani di manapun, tetapi aku tidak tahu sebenarnya mereka takut
kepadaku bukan malah menghormati ku. Hari ini aku pergi ke mall dan ingin mencari korban curian
di sana. Sesampainya di sana aku langsung memulai aksiku. Aku mencuri pakaian
yang baru saja di beli oleh wanita yang nampaknya
sih sholehah. Aku sangat senang karna dapat korban hari ini. Dan
pakaian yang di belinya mungkin akan terjual dengan harga yang cukup tinggi.
Selama beberapa hari, kutawarkan pakaian itu
kepada teman-teman dan orang yang menurutku punya uang lebih. Tetapi, tetap saja aku tak dapat menjualnya. Perut ku mulai merasa
lapar karna uang hasil curian mulai menipis karna terlalu banyak membeli
alcohol dan narkoba. Maka, mau tidak mau aku harus mencari korban curian lagi.
Sesampainya
di suatu pemakaman umum, aku melihat gadis yang 3 hari lalu ku curi pakaian
yang dibelinya. Dia sedang menangis di atas sebuah makam sambil berbicara sendirian.
Aku penasaran, apa yang dikatakan perempuan itu. Aku pun mendekatinya dan akhirnya
aku dapat mendengar apa yang dia katakan. “mas, pakaian yang dulu mas sukai dan
ingin membelikannya kepadaku, sekarang sudah dicuri orang. Dan yang paling sedihnya lagi, pakaian
itu satu-satunya di Jakarta. Maaf kan aku ya mas. Aku tidak dapat memakainya di hari ulang tahun mu, seperti
janjiku dulu” kata perempuan itu sambil meneteskan air mata.
Aku
sangat terpukul mendengar perkataan gadis sholehah itu. Apakah aku orang yang
sekeji itu kepada perempuan sebaik dirinya? Kenapa aku bisa seperti ini? Kenapa? Kenapa?.
Akhirnya aku pun meneteskan air mata tanpa diketahui perempuan itu karana aku
berada di balik pohon di belakang tubuhnya. Tanpa pikir panjang, aku berlari ke
tempat aku menyembunyikan pakaian wanita itu. Mungkin do’anya sudah di kabulkan
oleh Allah swt. Untuk dapat memilikinya lagi.
Setelah dia keluar pemakaman, akupun menghampirinya seraya menyerahkan
pakaiannya yang sudah aku curi. “ Ini pakaianmu, maaf ya sudah mengambil hakmu
secara paksa”kataku. “kau sungguh tega mengambil barang yang sudah dari dulu aku harapkan.
Mohon ampunlah kepada Allah swt. Semoga dia mengampunimu” kata perempuan dengan
wajah yang marah. Kemudian dia berlari ke arah utara dan selang beberapa menit,
diapun datang kembali sambil mengenakan pakaian yang aku curi. “ terima kasih
karna sudah mau menyerahkannya lagi kepadaku” katanya sambil tersenyum manis
kepadaku dan kembali masuk ke pemakaman. Di sana dia berdiri di atas makam yang
tadi sambil berkata “aku sudah menemukan baju itu mas. Pasti kau sangat bahagia
di sana melihat aku mengenakan pakaian ini” katanya.
Hatiku
terpukul lagi, aku sungguh tega mengambil kebahagaian yang sudah dari dulu
diharapkan perempuan ini. Aku berniat untuk bertobat dan ingin memperdalam ilmu
agama dengan belajar kepadanya.
Hari-hari
berikutnya kami semakin dekat dan Alhamdulillah aku sudah mulai paham tentang agama islam. Semua
kebiasaanku yang dulu telah aku tinggalkan. Tapi apalah yang mau dikata,
narkoba dan kebiasaan ku yang dulu telah menempakkan dampaknya pada tubuhku. Aku
positif HIV/AIDS. Akupun mulai jarang keluar rumah. Sudah 2 minggu aku tak
pernah bertemu dengan perempuan sholehah itu lagi. Aku terus berdo’a kepada
allah supaya memberikan yang terbaik untuknya dan semoga kami dapat berjumpa di
akhirat kelak. Sekarang hari-hariku, kupersiapkan untuk menghadap allah swt.
Mungkin hidupku takkan lama lagi.
Suatu
hari, datanglah kabar darinya bahwa dia menunggu ku di restoran tempat biasa
kami bertemu. Kamudian aku menjumpainya dengan pakaian yang gagah dan rapi. Sesampainya di
sana, dia menangis kemudian menceritakan bahwa dia mengidap kanker rahim
stadium 3. Aku sangat terkejut dan hanya bisa memotivasinya untuk terus
bertahan melawan penyakit itu. ketika pulang dia berkata ana uhibbuu ilallah.
Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Aku hanya tersenyum mendengarnya
sambil melihat dia pergi dan menghilang dari pandanganku.
Se
minggu kemudian, aku mendengar kabar bahwa dia telah tiada dan meninggalkan aku
sendiri. Aku yang masih terkapar di tempat tidurku, ku paksakantubuh ku untuk
bangkit agar dapat melihat bidadariku mulai terbang ke syurga. Ku paksakan berjalan walaupun batuk darah telah
menyelimuti perjalananku.
Sesampainya di
pemakamannya, aku mulai menangis dengan hati seperti di sayat-sayat. Tapi semua
nya berubah ketika dadaku terasa sangat sakit yang membuat jantungku melemah.
Aku mengucapkan syahadat kemudian berkata “kita akan bersatu di surga, bidadariku. Tunggu
aku”. Kemudian dunia terasa gelap dan tubuhku sangat lemah. Akhirnya aku
menutup mata untuk yang terakhir kalinya di atas makam bidadariku yang sangat
aku cintai.
Semoga sobat kukku dapat
mengambil hikmah dari cerita ini.
Salam sobat
kukku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar