Jumat, 18 Maret 2016

Sampah Di Negeri Nan Indah

By : "Hoamz"

Ruang kelas hening, tidak ada yang berani berbicara. Pak Fery yang merupakan guru terpandang di sekolah ini baru saja memarahi kami semua. Dia tidak tahan melihat kelakuan kami murid-muridnya.
"Kalian sudah keterlaluan!. Mau jadi apa kalian nanti?"
Kata-kata itulah yang biasa ia pakai saat sudah marah. Kemarin, Andi dan Pa'i kedapatan mengkopek saat ujian lalu membagi-bagikannya dengan kami sekelas. Karena itu, sebagai Wali kelas ia malu dengan laporan Pengawas Ujian kami kemarin. Ia meluapkan semua emosinya pada kami.
Pak Ferypun, menatap tajam setiap orang di kelas ini. Tatapannya terhenti ketika melihat wajahku.

25 Tahun silam. Di sebuah kota kecil, beberapa remaja bergegas pergi kesekolah. Jalanan di pagi hari seperti biasa, padat dengan kendaraan yang hendak menuju kesekolah ataupun kekantor.
"Tadi malam, ibu mendapat kabar gembira. Salah satu siswa kita meraih prestasi yang membanggakan. Santoso, ayo maju kedepan". Kata ibu kepala sekolah sembari memanggil Santoso.
"Santoso, mendapat Juara 1 olimpiade Fisika tingkat provinsi. Tepuk tangan anak-anak"
Semuanya bertepuk tangan, kagum dengan apa yang telah di capai Santoso. Ya, Santoso selalu mendapatkan prestasi yang membanggakan. Dalam satu semester ini, dia sudah mendapatkan 5 piala. Mulai dari Olimpiade, Karya Tulis, Olahraga, dan banyak lainnya.

Kamis, 17 Maret 2016

Siapa Tau?


Siapa Tau?
By : "Hoamz"

Kelas baru, hari ini aku berdiri di ruangan berbeda. Ya, aku sudah kelas 6 SD sekarang. Sudah saatnya fokus untuk belajar. Hari-hari biasanya aku memang hanya bermain dan bermain. Aku tidak mengenal kata belajar di perbendaharaan kataku. Tapi untuk sekarang tidak, aku harus belajar. Terlebih lagi aku harus bisa mengungguli orang yang duduk di belakang bangku ku sekarang. Seorang wanita yang sangat menyebalkan.
Tari namanya. Seorang wanita yang mengisi hari hari ku dengan kesialan. Di kelas 5 dulu kami satu meja, itu karena kami selalu berantam. Ibu guru menyuruh kami duduk semeja agar akur, tapi hahaha nyatanya makin hancur. 
Tahun ini tahun terakhirku di sekolah tercinta ini. Ingin rasanya lebih lama disini tapi itu tidak mungkin.

"Drak" Suara buku terjatuh membuatku tersadar dari lamunanku. 
"Jiah, makanya kalau jalan hati-hati..!" Ejekku pada Tari.
"Biasa aja, ini juga hati-hati, gara-gara kursimu tuh."
"Eh eh, malah nyalahin kursiku."
"Yaiya, gara-gara kursimu kakiku tersenggol"
"Woy, gak usah berantam gara-gara hal sepele. Sudah setahun kalian semeja waktu kelas 5 dulu, masih saja belum akur." Tegur Bayu dari belakang. 


Kamis, 25 Februari 2016

Akhiri Saja Semuanya



Akhiri Saja Semuanya
Karya: Mahlil Rizki
                

                    Heru memang anak nakal di sekolahnya. Tak sampai setahun, seluruh masyarakat sekolah sudah mengenalnya. Siapa yang tak kenal dengan anak bandel yang selalu membuat onar ini. Buku hitam bukan lagi buku dosa untuknya. Malah buku itu yang sering di isinya ketika berada di sekolah. Memang tubuhnya tidak terlalu tinggi dan badannya yang hanya sebesar remaja normal. Tapi dia sangat suka mengganggu siswa-siswi yang ada di sekolahnya. Siapa yang menurutnya pantas menerima pukulannya, maka dia tidak akan segan-segan memberikannya pada waktu itu juga. Banyak memang siswa yang tak suka dengan perilakunya itu tapi ada satu guru yang selalu sabar dalam mengajarinya walaupun guru itu selalu di bentak dan di perlakukan dengan tidak hormat.

Rabu, 24 Februari 2016

Sayap Palsu



SAYAP PALSU
Karya: Mahlil Rizki
                 

                 Entah kapan lagi aku akan merasakan kebahagiaan ini. kebahagiaan palsu yang sangat berarti bagiku. Seorang remaja yang menemukan sayapnya walupun ternyata sayap itu bukan miliknya. Tapi aku sangat bersyukur masih bisa merasakan semua ini. Mencintai seorang insan yang tak akan pernah mencintaiku. Semuanya memang sudah ku ketahui bahwa dia tak pernah mencintaku tapi aku menyembunyikannya dan hanya berpikir positif tentang semua ini agar kami tetap seperti sekarang yang saling menyayangin satu sama lain walupun kasih sayangnya palsu untukku. Aku hanya berharap suatu saat kelak aku dapat menyaksikannya dengan yang lain tepat di depan mataku.