Jumat, 03 Juli 2015

Tak Ku Sangka



"Dek, bagi duitnya dek, saya belum makan dari semalam" pinta pengemis kepadaku. Aku iba melihatnya, bajunya kumal. Tanpa alas kaki, membawa seorang anak di gendongannya meyakinkanku untuk memberinya sebagian duitku. "Ini bu, saya cuma punya segini." kataku sambil memberikan duit 100.000 kepadanya. "Wah, alhamdulillah. Ini kebanyakan dek." "Tidak apa-apa bu, saya masih punya banyak duit." Pengemis itupun senang dan pergi meninggalkanku. Akupun melanjutkan langkahku menuju rumah. Ya, aku baru saja pulang dari sekolah. Hari ini aku berpesan untuk tidak di jemput karena aku ingin sekali berjalan kaki seperti temanku lainnya. Aku memang tidak pernah pulang jalan kaki. Sejak SD aku di antar jemput oleh supir. Dan itu sangat membosankan bagiku.

 
Sekarang aku sudah kelas 3 SMA, aku tidak ingin di antar jemput terus. Walaupun lelah aku tetap senang melakukannya. Sesampainya dirumah, seperti biasa orang tuaku tidak ada. Mereka pergi bekerja keluar Negeri. Jarang sekali aku bertemu dengan mereka. Terkadang itu membuatku stress, kesepian, dan iri terhadap teman-teman lainnya yang selalu bertemu orang tuanya setiap malam. Aku tidak suka selalu begini. Namun semua pikiranku itu akan hilang ketika aku tertidur.
Hari ini, hari yang paling menentukan. Pengumuman kelulusan. Semua telah kulalui selama 3 tahun di sekolah ini. Manis pahitnya akan berakhir di hari ini. Kepala Sekolah naik keatas mimbar. Setelah ceramah begitu panjang akhirnya pengumuman ia sampaikan. "Hari ini, saya sangat bangga terhadap murid-murid saya semua. Kalian sudah bersungguh-sungguh. Hadiahkan kelulusan kepada orang tua kalian. Karena semua LULUS 100 %!". Semua siswa yang ada di lapangan bersorak, mereka bahagia hingga tidak mendengarkan lagi lanjutan ceramah Kepsek. Semua saling berpelukan, ada yang nangis terharu, ada lompat-lompat dan sebagainya. Aku juga sangat senang ternyata tidak sia-sia hasil belajar ku 3 tahun ini.
"Dan saya sangat bangga terhadap salah satu murid sekolah ini, karena berhasil meraih nilai tertinggi se provinsi kita. Yang bernama Putri Khairunnisa" Lanjut Kepsek. Nama itu tidak asing buatku, nama yang sering aku dengarkan dari orang yang aku kenal. Aku tidak menyangka ia mendapatkan prestasi sebaik itu. Aku tidak percaya, aku tidak percaya. Aku tidak percaya aku meraih nilai tertinggi itu. Kepsek memintaku untuk naik keatas mimbar untuk di beri penghargaan dari sekolah. Campur aduk perasaanku aku langsung naik ke mimbar itu.
Hari yang indah, ku akhiri di tempat tidurku. Lagi, kesenanganku hanya untuk diriku sendiri. Orang tuaku tidak disini. Mereka masih di luar Negeri. Sudah 4 bulan mereka tidak pulang. Setelah stress memikirkan mereka akupun tertidur di kasur empukku. Libur UN, kebanyakan temanku mengambil bimbel untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi yang ingin mereka tuju. Tidak denganku, aku merasa yakin dengan kemampuanku. Aku hanya menunggu hari dilaksanakannya ujian masuk PTN. SNMPTN yang ku ambil tidak ada yang masuk, sedikit kecewa tapi aku masih punya kesempatan.
Ujian tiba, aku merasa percaya diri aku berangkat menuju tempat yang di tentukan. Dan hari ini orang tuaku juga masih belum pulang. Sudah 6 bulan sejak keberangkatan mereka. Tapi aku mencoba untuk semangat dan berangkat dengan percaya diri yang tinggi. Di ruangan ini suasana sangat tegang, semua bersemangat untuk melaksanakan ujian masuk PTN. Mereka tidak ingin gagal dan masuk PTS yang biayanya sangat mahal. Aku sebenarnya tidak khawatir dengan itu, tapi aku tidak ingin memberatkan kedua orang tuaku meskipun mereka punya keuangan yang berlebih.
Ujian hari ini aku lalui sangat mudah, soal-soalnya mampu aku jawab semua. Tapi masih ada ujian lagi besok. Aku akan bersungguh-sungguh untuk menjawab semuanya. Esoknya aku cepat bangun, ada perasaan yang tidak enak yang kurasakan. Tapi aku tetap mencoba semangat agar tidak mengganggu ujianku nantinya. "Kring-Kring" Bunyi telepon rumah saat aku hendak berangkat. "Halo, kediaman Khairunnisa disini ada yang bisa saya bantu?" Jawabku dengan kata-kata formal yang orang tuaku ajarkan kepadaku. "Apa ini Putri?" "Iya, saya sendiri ada apa?". "Ini tante teman ibu kamu, kamu yang sabar ya nak." "Tante,..? Ada apa? Sabar kenapa?" "Ayah dan ibumu nak, mereka salah satu korban kecelakaan pesawat." "Apa? apa?" aku seketika pingsang mendengar pernyataan dari tanteku, aku tidak kuasa menahan beban seberat itu.
Kini, tinggal aku sendiri. Tidak ada lagi keluargaku. Aku sangat sedih, orang tua ku yang memang jarang kutemui kini tidak akan pernah lagi ku temui. Aku pusing menahan beban seberat ini. Di tambah lagi aku tidak lulus masuk PTN karena tidak mengikuti ujian kedua kemarin. Aku hampir gila tidak dapat menahan beban seberat ini. Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke diskotik menghilangkan beban di pikiranku.
Setiap hari aku pergi malam pulang pagi. Aku habiskan waktu ku untuk minum, joget, dan bermain hingga larut pagi. "Non, jangan pergi non. Nanti non sakit, gak baik anak perempuan keluar malam" Kata salah satu pembantu ku suatu malam. "Apa-apa an ini, jangan ikut campur. Pergi sana aku tidak perduli dengan semuanya." Kataku sambil menyiramnya dengan air di gelasku. Akupun pergi menuju diskotik tempat aku biasa menghabiskan waktuku. "Nona Putri sudah berubah," "iya, sejak kedua orang tuanya meninggal ia menjadi stress".
Malam ini aku sangat bersemangat menuju diskotik tersebut. Aku pun bercanda, menari, bernyanyi minum, sepuasnya dengan teman-temanku. Tapi tiba-tiba kepala ku pusing, akupun pulang lebih awal dari biasanya. Aku pulang pukul 3 pagi. Saat hendak masuk kemobil ada yang hendak menyekapku dari belakang. "akh lepaskan" kataku. "Akh kamu cantik sekali nona, aku tidak akan melepaskanmu. Ia ternyata hendak memperkosaku. Aku meronta, ku coba untuk lari tapi badannya terlalu kuat. Baju ku di robeknya. Awalnya aku hendak menyerah, tapi saat ia hendak melakukan hal buruk terlalu jauh, ku tendang kakinya lalu kutinju perutnya sekuat tenagaku. Ia kesakitan, akupun lari menuju mobil dan melaju dengan sekencang kencangnya. Jantung ku berdebar saat itu, aku sungguh ketakutan. Aku hampir saja di nodai pemuda itu. Ku pacu mobil ku dengan sekencang kencangnya. Saat di tikungan, ada mobil yang lewat, stirku tidak terkendali. Mobilku pun terserempet pembatas jalan.
Aku terbangun ternyata aku sudah di rumah sakit, aku koma selama 4 hari. Kaki kiri ku patah. Akupun menangis sejadi-jadinya. Betapa sialnya hidupku ini. Beberapa minggu setelah itu aku sudah diperbolehkan pulang. Tapi aku tidak bisa berjalan normal lagi, meskipun bisa berjalan namun kaki kiriku sangat rawan. Suatu pagi, datang pegawai bank kerumahku. Ternyata ia ingin menyita semua asset keluargaku. Orangtuaku dulu pernah berutang, dan belum lunas. Akupun terjatuh pingsan, aku tidak sanggup menahan ini semua. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Aku juga tidak punya pekerjaan. Melamar pun aku tidak di terima karena aku hanyalah tammatan SMA. Aku sangat terpukul, tidak bisa berbuat apa-apa.
Akupun pergi sebuah jembatan. Di sana aku hendak mengakhiri hidupku. "Kenapa? Kenapa begini ya Allah? Kenapa?. Aku sudah rajin beribadah dulu, aku selalu bersemangat belajar. Aku selalu membantu orang yang kesusahan? Tapi kenapa? Kau mengambil orang tuaku. Kau mengambil hakku masuk PTN. Kau membuatku hampir mati, lalu kau mengambil semua harta ku. Apa salahku?" Akupun naik keatas pembatas jembatan. Saat hendak melompat, ada yang menarikku dari belakang. "Kamu sudah gila ya?, Memang semuanya bisa selesai jika kamu bunuh diri?" "Aku menangis sejadi-jadinya hingga pingsan.
Aku terbangun dari pingsanku. Ini kamar yang sangat megah. Lebih indah dari kamarku dulu. Lalu datang seorang ibu ibu dari luar. "Kamu sudah bangun?. Ayo dimakan ini, ibu bawain nasi buatmu." "Terimakasih bu, ibu ini siapa?" "Sebelum saya jawab, ceritakan dulu kenapa kamu seperti ini?" Akupun menceritakan semuanya. Ia menangis mendengar ceritaku itu. "Baiklah, kamu akan aku angkat jadi anakku, silahkan miliki ini semua, ini adalah milikmu." "Miliku? tapi kenapa bu?" "Ingatkah kamu ketika kamu SMA dulu?, Kamu pernah memberikan uang 100000 kepada seorang pengemis yang menggendong anaknya?" "Iya bu, emang kenapa?" "Itu adalah saya, dengan uang 100000 mu, saya mencoba berjualan makanan. Meskipun awalnya sedikit, namun inilah hasinya. Itu tidak ternilai buat saya. Ambillah ini untukmu, kamu berhak memiliki nya." Akupun menangis sejadi-sejadinya, tidak ku sangka sedekah ku dulu itu berbuah manis sekarang. Aku tidak tahu ternyata Allah memberikanku jalan yang begitu indah untuk sampai di saat seperti ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar