"Dek, bagi
duitnya dek, saya belum makan dari semalam" pinta pengemis kepadaku. Aku
iba melihatnya, bajunya kumal. Tanpa alas kaki, membawa seorang anak di
gendongannya meyakinkanku untuk memberinya sebagian duitku. "Ini bu, saya
cuma punya segini." kataku sambil memberikan duit 100.000 kepadanya.
"Wah, alhamdulillah. Ini kebanyakan dek." "Tidak apa-apa bu,
saya masih punya banyak duit." Pengemis itupun senang dan pergi
meninggalkanku. Akupun melanjutkan langkahku menuju rumah. Ya, aku baru saja
pulang dari sekolah. Hari ini aku berpesan untuk tidak di jemput karena aku
ingin sekali berjalan kaki seperti temanku lainnya. Aku memang tidak pernah
pulang jalan kaki. Sejak SD aku di antar jemput oleh supir. Dan itu sangat
membosankan bagiku.
Sekarang aku sudah
kelas 3 SMA, aku tidak ingin di antar jemput terus. Walaupun lelah aku tetap
senang melakukannya. Sesampainya dirumah, seperti biasa orang tuaku tidak ada.
Mereka pergi bekerja keluar Negeri. Jarang sekali aku bertemu dengan mereka. Terkadang
itu membuatku stress, kesepian, dan iri terhadap teman-teman lainnya yang
selalu bertemu orang tuanya setiap malam. Aku tidak suka selalu begini. Namun
semua pikiranku itu akan hilang ketika aku tertidur.
Hari ini, hari yang
paling menentukan. Pengumuman kelulusan. Semua telah kulalui selama 3 tahun di
sekolah ini. Manis pahitnya akan berakhir di hari ini. Kepala Sekolah naik
keatas mimbar. Setelah ceramah begitu panjang akhirnya pengumuman ia sampaikan.
"Hari ini, saya sangat bangga terhadap murid-murid saya semua. Kalian
sudah bersungguh-sungguh. Hadiahkan kelulusan kepada orang tua kalian. Karena
semua LULUS 100 %!". Semua siswa yang ada di lapangan bersorak, mereka
bahagia hingga tidak mendengarkan lagi lanjutan ceramah Kepsek. Semua saling
berpelukan, ada yang nangis terharu, ada lompat-lompat dan sebagainya. Aku juga
sangat senang ternyata tidak sia-sia hasil belajar ku 3 tahun ini.
"Dan saya sangat
bangga terhadap salah satu murid sekolah ini, karena berhasil meraih nilai
tertinggi se provinsi kita. Yang bernama Putri Khairunnisa" Lanjut Kepsek.
Nama itu tidak asing buatku, nama yang sering aku dengarkan dari orang yang aku
kenal. Aku tidak menyangka ia mendapatkan prestasi sebaik itu. Aku tidak
percaya, aku tidak percaya. Aku tidak percaya aku meraih nilai tertinggi itu.
Kepsek memintaku untuk naik keatas mimbar untuk di beri penghargaan dari
sekolah. Campur aduk perasaanku aku langsung naik ke mimbar itu.
Hari yang indah, ku
akhiri di tempat tidurku. Lagi, kesenanganku hanya untuk diriku sendiri. Orang
tuaku tidak disini. Mereka masih di luar Negeri. Sudah 4 bulan mereka tidak
pulang. Setelah stress memikirkan mereka akupun tertidur di kasur empukku.
Libur UN, kebanyakan temanku mengambil bimbel untuk menghadapi ujian masuk
perguruan tinggi yang ingin mereka tuju. Tidak denganku, aku merasa yakin
dengan kemampuanku. Aku hanya menunggu hari dilaksanakannya ujian masuk PTN.
SNMPTN yang ku ambil tidak ada yang masuk, sedikit kecewa tapi aku masih punya
kesempatan.
Ujian tiba, aku
merasa percaya diri aku berangkat menuju tempat yang di tentukan. Dan hari ini
orang tuaku juga masih belum pulang. Sudah 6 bulan sejak keberangkatan mereka.
Tapi aku mencoba untuk semangat dan berangkat dengan percaya diri yang tinggi.
Di ruangan ini suasana sangat tegang, semua bersemangat untuk melaksanakan
ujian masuk PTN. Mereka tidak ingin gagal dan masuk PTS yang biayanya sangat
mahal. Aku sebenarnya tidak khawatir dengan itu, tapi aku tidak ingin
memberatkan kedua orang tuaku meskipun mereka punya keuangan yang berlebih.
Ujian hari ini aku
lalui sangat mudah, soal-soalnya mampu aku jawab semua. Tapi masih ada ujian
lagi besok. Aku akan bersungguh-sungguh untuk menjawab semuanya. Esoknya aku
cepat bangun, ada perasaan yang tidak enak yang kurasakan. Tapi aku tetap mencoba
semangat agar tidak mengganggu ujianku nantinya. "Kring-Kring" Bunyi
telepon rumah saat aku hendak berangkat. "Halo, kediaman Khairunnisa
disini ada yang bisa saya bantu?" Jawabku dengan kata-kata formal yang
orang tuaku ajarkan kepadaku. "Apa ini Putri?" "Iya, saya
sendiri ada apa?". "Ini tante teman ibu kamu, kamu yang sabar ya
nak." "Tante,..? Ada apa? Sabar kenapa?" "Ayah dan ibumu
nak, mereka salah satu korban kecelakaan pesawat." "Apa? apa?" aku
seketika pingsang mendengar pernyataan dari tanteku, aku tidak kuasa menahan
beban seberat itu.
Kini, tinggal aku
sendiri. Tidak ada lagi keluargaku. Aku sangat sedih, orang tua ku yang memang
jarang kutemui kini tidak akan pernah lagi ku temui. Aku pusing menahan beban
seberat ini. Di tambah lagi aku tidak lulus masuk PTN karena tidak mengikuti
ujian kedua kemarin. Aku hampir gila tidak dapat menahan beban seberat ini.
Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke diskotik menghilangkan beban di pikiranku.
Setiap hari aku pergi
malam pulang pagi. Aku habiskan waktu ku untuk minum, joget, dan bermain hingga
larut pagi. "Non, jangan pergi non. Nanti non sakit, gak baik anak
perempuan keluar malam" Kata salah satu pembantu ku suatu malam.
"Apa-apa an ini, jangan ikut campur. Pergi sana aku tidak perduli dengan
semuanya." Kataku sambil menyiramnya dengan air di gelasku. Akupun pergi
menuju diskotik tempat aku biasa menghabiskan waktuku. "Nona Putri sudah
berubah," "iya, sejak kedua orang tuanya meninggal ia menjadi
stress".
Malam ini aku sangat
bersemangat menuju diskotik tersebut. Aku pun bercanda, menari, bernyanyi
minum, sepuasnya dengan teman-temanku. Tapi tiba-tiba kepala ku pusing, akupun
pulang lebih awal dari biasanya. Aku pulang pukul 3 pagi. Saat hendak masuk
kemobil ada yang hendak menyekapku dari belakang. "akh lepaskan"
kataku. "Akh kamu cantik sekali nona, aku tidak akan melepaskanmu. Ia
ternyata hendak memperkosaku. Aku meronta, ku coba untuk lari tapi badannya
terlalu kuat. Baju ku di robeknya. Awalnya aku hendak menyerah, tapi saat ia
hendak melakukan hal buruk terlalu jauh, ku tendang kakinya lalu kutinju
perutnya sekuat tenagaku. Ia kesakitan, akupun lari menuju mobil dan melaju
dengan sekencang kencangnya. Jantung ku berdebar saat itu, aku sungguh
ketakutan. Aku hampir saja di nodai pemuda itu. Ku pacu mobil ku dengan
sekencang kencangnya. Saat di tikungan, ada mobil yang lewat, stirku tidak
terkendali. Mobilku pun terserempet pembatas jalan.
Aku terbangun
ternyata aku sudah di rumah sakit, aku koma selama 4 hari. Kaki kiri ku patah.
Akupun menangis sejadi-jadinya. Betapa sialnya hidupku ini. Beberapa minggu
setelah itu aku sudah diperbolehkan pulang. Tapi aku tidak bisa berjalan normal
lagi, meskipun bisa berjalan namun kaki kiriku sangat rawan. Suatu pagi, datang
pegawai bank kerumahku. Ternyata ia ingin menyita semua asset keluargaku.
Orangtuaku dulu pernah berutang, dan belum lunas. Akupun terjatuh pingsan, aku
tidak sanggup menahan ini semua. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Aku juga
tidak punya pekerjaan. Melamar pun aku tidak di terima karena aku hanyalah
tammatan SMA. Aku sangat terpukul, tidak bisa berbuat apa-apa.
Akupun pergi sebuah
jembatan. Di sana aku hendak mengakhiri hidupku. "Kenapa? Kenapa begini ya
Allah? Kenapa?. Aku sudah rajin beribadah dulu, aku selalu bersemangat belajar.
Aku selalu membantu orang yang kesusahan? Tapi kenapa? Kau mengambil orang
tuaku. Kau mengambil hakku masuk PTN. Kau membuatku hampir mati, lalu kau
mengambil semua harta ku. Apa salahku?" Akupun naik keatas pembatas
jembatan. Saat hendak melompat, ada yang menarikku dari belakang. "Kamu
sudah gila ya?, Memang semuanya bisa selesai jika kamu bunuh diri?"
"Aku menangis sejadi-jadinya hingga pingsan.
Aku terbangun dari
pingsanku. Ini kamar yang sangat megah. Lebih indah dari kamarku dulu. Lalu
datang seorang ibu ibu dari luar. "Kamu sudah bangun?. Ayo dimakan ini,
ibu bawain nasi buatmu." "Terimakasih bu, ibu ini siapa?"
"Sebelum saya jawab, ceritakan dulu kenapa kamu seperti ini?" Akupun
menceritakan semuanya. Ia menangis mendengar ceritaku itu. "Baiklah, kamu
akan aku angkat jadi anakku, silahkan miliki ini semua, ini adalah
milikmu." "Miliku? tapi kenapa bu?" "Ingatkah kamu ketika
kamu SMA dulu?, Kamu pernah memberikan uang 100000 kepada seorang pengemis yang
menggendong anaknya?" "Iya bu, emang kenapa?" "Itu adalah
saya, dengan uang 100000 mu, saya mencoba berjualan makanan. Meskipun awalnya
sedikit, namun inilah hasinya. Itu tidak ternilai buat saya. Ambillah ini
untukmu, kamu berhak memiliki nya." Akupun menangis sejadi-sejadinya,
tidak ku sangka sedekah ku dulu itu berbuah manis sekarang. Aku tidak tahu
ternyata Allah memberikanku jalan yang begitu indah untuk sampai di saat
seperti ini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar